Berkunjung Ke Kota Tua Jakarta



Sore itu, saya pulang kerja. Saya duduk di teras kantor sambil memainkan gadget. Tiba-tiba ada pesan whatsapp dari teman saya, dia bilang “bro, ane  ada di Jakarta nih”. Lalu saya balas “ yang bener, ente dimana ? Liburan ya ? “. Dia menjawab “ iya nih liburan, lagi di Kota Tua.”  “ Kalo ada waktu sini dung .” Saya masih belum percaya, dan saya mencoba bertanya sekali lagi untuk memastikannya. Dia mengirimkan foto selfinya. 



Akhirnya saya percaya dan langsung berkemas menuju parkiran, motor saya hidupkan dan sambil menunggu motor panas, saya memakai sepatu terlebih dahulu. Motor sudah siap dan saya langsung menuju ke Kota Tua, jujur ini baru pertama kali saya ke Kota Tua, walaupun saya sudah 4 tahun tinggal di Jakarta Utara. Ya, maklumlah saya sibuk kuliah plus kerja, berangkat pagi pulang malam, haha sedih kalo di ceritain mah. 





Sampailah saya di Kota Tua setelah menempuh perjalanan selama 45 menit. Saya mencari teman saya sampai muter-muter selama 30 menit dan akhirnya ketemu juga, dia lagi jalan di area bermain. Kami berjalan-jalan sambil berbincang-bincang untuk melepas rasa rindu sebagai seorang sahabat.






Kami berkeliling bersama sambil menikmati pemandangan sore yang indah. Kami mencoba masuk ke museum- museum dan sedikit mengabadikan momen tersebut dengan kamera handphone. Kami terus berjalan menyusuri setiap pojok area Kota Tua. Tak terasa hari sudah sore dan matahari menjelang terbenam. Kami memutuskan untuk pulang ke rumah kos saya yang berada di Tanjung Priok Jakarta Utara. Teman saya memutuskan untuk menginap malam itu dan pagi hari rencananya teman saya akan pulang menuju kota kecil dengan sejuta cerita yaitu Kota Purworejo, Jawa Tengah.



Sekian cerita saya tentang Kota Tua Jakarta. Semoga cerita ini menarik minat anda semua untuk berkunjung ke Kota Tua Jakarta.


Pendakian Gunung Sikunir 2350 mdpl

Puncak Sikunir
Kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya ketika berkunjung ke Bukit Sikunir yang terletak di Desa Sembungan,Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Bukit Sikunir adalah salah satu wisata andalan Dataran Tinggi Dieng dengan ketinggian 2350 mdpl. Saat ini wisata ini semakin ramai dikunjungi wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Salah satu yang paling menarik dari tempat wisata ini adalah indahnya sunrise atau sering disebut golden sunrise sikunir. Keindahan alam yang dipadukan dengan keharmonisan warga sekitar membuat kawasan ini selalu ramai pengunjung.

Dalam perjalanan ini Saya di temani 6 orang teman saya mengendarai motor dari Purworejo Jawa Tengah. Pukul 13:30 Wib kami memulai perjalanan dari Pusat Kota Purworejo dengan di hiasai gerimis ringan. Kami ber-iringan melintasi Jalan Raya Magelang kemudian membelok menuju Jalan Raya Purworejo-Wonosobo. Hujan semakin besar, terpaksa kami berhenti untuk memakai jas hujan. Kami berjalan lagi dan menikmati tanjakan, kelokan, turunan tajam, serta jalanan yang agak licin. Kami berkendara dikisaran kecepatan 40-70 km/jam. Kami harus berkonsentrasi penuh karena hujan lebat disertai kabut yang sedikit menghalangi jarak pandang kami. Atas tebing dan bawah jurang dengan tikungan tajam, tanjakan terjal, turunan sedang adalah gambaran Jalan Raya Purworejo-Wonosobo. Bagi kami ini adalah keindahan yang kami harapkan untuk memacu adrenalin kami.


Spot foto yang cantik di Puncak Sikunir
Pukul 15:30 kami sampai di Alun-Alun Wonosobo,kami berhenti sejenak untuk melepas jas hujan karena hujan mereda dan tinggal gerimis kecil. Kami melanjutkan perjalanan menuju Jalan Dieng, jalan yang menuju ke arah utara. Setelah berjalan sekitar setengah jam, hujan kembali turun terpaksa jas hujan kami pakai lagi. Kami melanjutkan perjalanan dan di Pom bensin terakhir arah dieng kami berhenti untuk mengisi bahan bakar dan menjalankan Sholat Ashar. Kami kembali melanjutkan perjalanan melewati Jalan Raya Dieng dengan gambaran jalan menanjak dan berkelok di hiasi pemandang bukit yang sangat indah. Disebuah jembatan kami berhenti sejenak karena melihat indahnya Gunung Sindoro. Kami melakukan foto bersama dan sedikit menikmati segarnya udara pegunungan. Kami melanjutkan perjalanan menuju Bukit Sikunir, karena waktu hampir maghrib kami menambah kecepatan laju motor dengan harapan masih dapat shalat maghrib di base camp Sikunir.

Akhirnya setelah melalui jalanan yang sedikit rusak dan menajak kami sampai di Desa Sembungan. Dan 10 menit dari gapura adalah base camp sikunir. Kami segera memarkir kendaraan di tempat parkir yang tersedia selanjutnya mendaftar simaksi di base camp dengan biaya sebesar Rp. 10.000,- kemudian kami sholat maghrib. Setelah sholat maghrib kami membaca peraturan pendakian, dan ternyata di Bukit Sikunir ini tidak boleh nge camp di puncak, kami boleh mendirikan tenda di dekat base camp dan lokasi camp memutari sebuah danau yang dikenal dengan Danau Cebong. Kemudian untuk pendakian diperbolehkan mulai pukul 03:00 wib. Saya sempat bertanya-tanya mengapa gak boleh nge-camp di puncak yah, padahal kan ini bukit pendek bukan gunung tinggi dengan cuaca yang sangat ekstreem di puncaknya. Setelah kami membaca peraturan lebih detail ternyata alasan utamanya tentunya keamanan dan keselamatan pendaki. Selanjutnya panjang trek cuman 800 meter sehingga tidak perlu menginap di puncak untuk menikmati sunrise. Cukup bangun pagi sekitar pukul 05:00 langsung deh jalan ke atas.
Panjang Trek Pendakian Sekitar 800 meter
Setelah semua peraturan kami pahami, waktu memasuki waktu sholat isya’, kami segera bersholat. Setelah sholat kami mencari lokasi untuk mendirikan tenda. Kami mendirikan dua buah tenda berhimpitan disebelah utara danau. Tenda selesai kami langsung menghidupkan perapian yang bersumber dari kompor, untuk menghangatkan panci yang berisikan air. Setelah mendidih kami bersama-sama membuat susu jahe yang bertujuan untuk menghangatkan tubuh kami. Memang ini sudah memasuki musim hujan, tapi dingin nya masih seperti musim kemarau. Kemudian kami masak mie instan untuk mengganjal perut kami.

Sambil menunggu pagi hari, kami bercanda , bermain kartu, ada juga yang chatting dengan teman dekatnya, ada juga yang kedinginan. Sungguh keceriaan yang tidak bisa dibayar. Keindahan kebersamaan ini sulit di dapatkan jika kita tinggal di kota besar. Dimana kebahagiaan serta kebersamaan anak kota itu bisa di nikmati ketika ada uang. Namun bagi kita anak desa, kebersamaan tercipta begitu saja tanpa melihat uang, istilahnya makan gak makan yang penting ngumpul.


Kapan lagi bisa foto seperti ini ?
Jarum jam menunjukkan pukul 00:00 wib, saya menyarankan kepada teman-teman untuk tidur. Akhirnya kami tidur, dan terbangun pukul 04:00 wib. Saya memasak nasi dan menyiapkan sarapan pagi. Sarapan sudah siap kubangunkan teman-teman dan kami makan bersama. Setelah sarapan selesai kami sholat subuh berjama’ah di mushola samping base camp. Dan setelah sholat kami bersiap-siap membawa perlengkapan pendakian, tentunya yang gak boleh tertinggal adalah kamera digital. Alat wajib seorang pendaki yang kadar kewajibannya di bawah makanan.

Kami berdoa bersama sebelum mendaki, dan pendakian kami lakukan bersama-sama dengan teman-teman lain yang cukup ramai. Kami berjalan bersama dengan canda dan tawa. Butuh waktu 30 menit untuk sampai Puncak Sikunir dengan panjang lintasan 800 meter.

Sampailah kami di Puncak Sikunir yang telah di padati oleh pendaki-pendaki. Kami berusaha mencari celah yang lebih tinggi agar bisa menikmati Golden Sunrise Sikunir. Akhirnya kami menemukan tempat strategis untuk menunggu matahari terbit dengan kamera-kamera hebat kami. 


Ini bisa digunakan untuk foto pre wedding
Matahari terbit dan saya pun telah menyiapkan handy camp agar setiap detik terbitnya matahari dapat di abadikan. Kami berfoto-foto sepuas kami sampai memory yang ada habis. Selfi, foto bareng, foto pemandangan, foto sana, foto sini, semuanya penuh dengan foto-memoto. Memang sangat indah sekali pemandangan di Puncak Sikunir ini. Di depan kami ada Gunung Sindoro yang berdiri dengan tegaknya disertai kepulan asap dari puncak gunungnya. Selain Gunung Sindoro ada juga Gunung –gunung yang lain yang nampak tertata rapi dan sangat memanjakan mata. Rugi jika anda ke Dieng tapi tidak berkunjung ke Bukit Sikunir ini. Karena banyak juga wisata di sepanjang jalan menuju Bukit Sikunir ini.

Selanjutnya setelah foto-foto selesai, kami turun ketempat berdirinya tenda dan membongkar tenda dan selanjutnya berkemas-kemas. Setelah selesai, kami berjalan kearah kota Wonosobo dan kemudian makan siang di pinggir jalan di sekitar Jalan Raya Dieng. Selanjutnya kami menuju Kebun The Tambi, kami mampir sejenak untuk berfoto-foto. Setelah semua selesai kami memutuskan untuk pulang. Dan sebelum pulang tentunya kami mampir di toko oleh-oleh. Kami belanja oleh-oleh dan selanjutnya kami pulang menuju Purworejo. 

Demikian cerita saya tentang perjalanan ke Gunung Sikunir Wonosobo, semoga cerita singkat ini membantu teman-teman semua. Bagikan artikel ini jika bisa bermanfaat buat orang terdekat anda. Kritik dan saran saya tunggu untuk kemajuan blog ini. Thanks

Pendakian Gunung Merbabu 3142 mdpl via Jalur Wekas

Pendakian Gunung Merbabu via Wekas



Puncak Kenteng Songo
Gunung Merbabu berasal dari kata “meru” yang berarti gunung  dan “babu” yang berarti wanita. Gunung Merbabu terlatak pada 4 kabupaten, yaitu Kabupaten  Magelang sebelah barat, Kabupaten Boyolali sebelah timur, Kabupaten Salatiga sebelah selatan, dan sebelah utara Kabupaten Semarang Provinsi Jawa Tengah. Gunung Merbabu memiliki 2 puncak tertinggi yaitu Puncak Syarif (3.119 mdpl) dan Puncak Kenteng Songo (3.142 mdpl). Untuk mendaki Gunung Merbabu ada 4 jalur populer yang sering di lewati oleh banyak pendaki yaitu :

1. Jalur Selo Boyolali
Desa Selo selain menjadi start pendaki Merbabu, juga terdapat base camp untuk pendakian Gunung merapi. Jalur ini adalah jalur yang paling direkomendasikan untuk pendaki pemula, karena tingkat kesulitan jalur ini adalah medium. Untuk waktu pendakian melewati jalur ini di tempuh dengan waktu naik sekitar 8,5 jam, dan turun 4-6 jam.

2. Jalur Kopeng Salatiga
Sebagai gambaran saja, jalur ini terkenal lebih sulit dan lebih ekstrim. Di jalur ini kita akan melewati jalan curam. Di jalur kopeng sendiri memiliki 2 jalur lagi yaitu Jalur Kopeng Thekelan dan Jalur Kopeng Cunthel. Kedua jalur tersebut akan bertemu di pemancar. Total perjalanan yang di tempuh sekitar 8 jam naik dan 5-6 jam untuk turun, dengan melewati 5 pos.

3. Jalur Suwanting Magelang
Jalur ini merupakan jalur yang paling pendek, hanya di butuhkan waktu sekitar 7 jam untuk sampai puncak, namun trek yang di lewati sangat terjal, trek ini tidak di sarankan untuk pendaki pemula, karena akan menguras tenaga dan berimbas pada kelelahan. 

4. Jalur Wekas Magelang/Salatiga
Jalur Pendakian ini termasuk jalur pendakian favorit pendaki, meskipun jalur ini agak terjal, namun di jalur ini akan banyak di jumpai mata air. Banyak pendaki yang mendaki di musim kemarau yang memilih jalur ini, alasannya pasti mata iar yang ada, karena bagi pendaki air adalah kebutuhan yang wajib. Jika kita mengandalkan air bawaan dari base camp tentu akan berat jika harus membawa banyak air. Untuk Waktu tempuh di jalur ini memerlukan waktu 8,5 jam untuk naik, dan 5-6 jam untuk turun.

Kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya saat mendaki Gunung Merbabu satrt Base camp Wekas dan finis Base camp Selo. Pada pendakian kali ini saya mendaki Gunung Merbabu di temani dengan 2 orang teman. Kami mendaki di musim kemarau. Kami berangkat dari Jakarta Timur Pukuk 14:00 Wib dengan menaiki  Bus tujuan Solo. Kami turun di perempatan Salatiga  pukul 03:00 Wib. Kami melanjutkan perjalanan menuju Desa Wekas dengan menggunakan Pick Up pengangkut sayur. Kami turun di Gapura Desa Wekas, dan di lanjutkan dengan berjalan kaki menuju base camp, karena pagi itu belum ada tukang ojek yang mangkal. Akhirnya setelah 15 menit berjalan kami melihat Masjid, dan kami memutuskan untuk beristirahat di Masjid sembari  menunggu waktu subuh datang. Setelah shalat  subuh kami melanjutkan perjalanan, tak lama kemudian ada mobil Avanza yang menawarkan jasa carterny untuk mengantar kami menuju base camp. Kami menanyakan terlebih dulu apakah base camp masih jauh ? Lalu dijelaskan bahwa base camp masih 1 jam lagi jika berjalan kaki. Lalu kami memutuskan untu naik mobil sampai base camp dengan biaya 10.000 per orang.

Setelah tiba di base camp , kami langsung mandi, ganti pakaian, sarapan dan bersiap-siap melakukan pendakian. Kami memeriksa kembali perlengkapan pendakian yang di butuhkan. Pukul 7:30 Wib kami berdoa bersama dan langsung melangkah untuk mendaki. Kami disuguhkan dengan pemandangan ladang warga yang sangat indah dan rapi, saat itu sedang musim tanam kentang, bawang merah, dan sayur-sayuran.



Setelah 30 menit berjalan, kami sempatkan untuk berfoto-foto, karena pemandangan disini cukup indah untuk di abadikan. Base camp Wekas sudah berada pada ketinggian hampir 1800 mdpl, sehingga pegunungan kecil di sekitar sudah terlihat jelas, saayang kalau tidak diabadikan. Kami melanjutkan perjalanan menuju ke Pos 1.

Kami sampai di Pos 1 pukul 09:30 Wib. Kami memutuskan untuk beristirahat menikmati kopi di lereng gunung ini. Kami keluarkan kompor, nesting, gelas ,kopi sachet, dan air secukupnya. Menikmati kopi di suasana yang santai adalah idaman banyak orang, dan kami tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.  Kami sangat menikmati udara sejuk di bawah pohon-pohon besar, seakan semua masalah di Ibu kota lenyap seketika dan berganti perdamaian yang membuat otak fresh tanpa beban. Namun pendakian kali ini mendapat sedikit kendala, yaitu debu yang beterbangan dimana-mana, sehingga memaksa kami untuk mendaki dengan menggunakan masker. Debu ini adalah efek dari letusan Merapi di tahun 2012. Karena ini musim kering sehingga debu tersebut terbang ketika ada pendaki yang melintas di bantu dengan kencangnya angin di pegunungan.

Trek berdebu saat musim kemarau
Memang ada plus minus nya jika kita mendaki di musim kemarau, diantaranya untuk segi negatif adalah rawan kebakaran hutan, cuaca sangat terik di siang hari, trek berdebu, hutan terlihat gersang, jika malam hari udara sangat dingin, mata air susah, dan masih banyak masalah-masalah lain. Namun segi positifnya adalah pendakian 90% lancar, tidak ada gangguan hujan atau kabut, jarang terjadi badai, jarang terjadi longsor, Sukses melihat sunrise dan masih banyak lagi.

Kembali ke perjalanan kami, kami bergegas mengemas barang dan melanjutkan perjalanan ke pos selanjutnya. Langkah demi langkah kami tapak dengan semangat untuk mencapai puncak. Sesekali kami berhenti dan berfoto. Dari Pos 1 menuju Pos 2 jalanan mulai menanjak, namun masih di batas normal, karena tidak ada tanjakan ekstrim. Dibutuhkan waktu 2 jam perjalanan menuju pos 2.

Di dalam perjalanan kami di susul oleh 2 anak kecil yang berjalan ke atas entah mau kemana tanpa pengawalan orang tuanya. Kami bertanya pada mereka “ adik-adik mau kemana ?”. Lalu adik-adik itu bercerita bahwa mereka penduduk situ dan naik gunung tersebut  untuk memberitahu pendaki jangan membuka saluran air (paralon). Karena paralon tersebut di fungsikan untuk sumber air warga untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk mengairi ladang mereka. Jika di buka oleh pendaki maka saluran air tersebut akan mati dan pasokan air warga terganggu. Kami sangat terkejut mendengar penjelasan dari kedua anak kecil tadi, seolah penjelasan ini keluar dari mulut orang dewasa. Sungguh kami sangat bangga melihat kedua anak kecil itu.

Kami melanjutkan perjalanan dengan terus melangkah menikmati tanjakan yang semakin menantang. Matahari semakin naik dan hawa panas kering berdebu terus menghiasi pendakian kami. Dengan perjuangan keras kami sampai di Pos 2 pukul 11:45 Wib. Kami memutuskan untuk makan siang, shalat, dan istirahat sejenak.

Tas ku bongkar, ku keluarkan peralatan masak dan sedikit logistik. Aku bersama temanku mulai memasak dengan menyalakan 2 kompor. Temanku masak nasi, aku menggoreng tempe, sementara satu temanku mengambil air di mata air yang tak jauh dari camp area. Nasi telah matang, tempe matang dan mie goreng pun telah siap santap. Kami makan dengan lahap dan sangat menikmati betapa nikmatnya makan saat pendakian. Karena apapun makanannya akan terasa enak dan sedap. Setelah makan kami bersantai terlebih dahulu ditemani segelas kopi. Waktu dzuhur telah datang dan kami bergegas sholat dzuhur.


Setelah Pos 2 Wekas
Setelah shalat kami berkemas untuk melanjutkan perjalanan. Kami melanjutkan perjalanan dengan semangat tinggi. Yaa,, abis di isi tangki nya. haha. Kami melangkahkan kaki setapak demi setapak hingga kami sampai di sebuah pertigaan. Dimana jika kita ingin mengikuti jalur pendakian kita berjalan lurus, namun jika ingin mengambil jalur pintas kita harus belok kanan. Kami berdebat sementara untuk menentukan apakah mengambil jalur lurus atau kanan. Akhirnya kami memutuskan mengambil jalur kanan, yang mana jalur tersebut seperti bukan jalur pendakian, karena tertutup rumput atau alang-alang. Kami menduga ini adalah jalur warga saat mengecek pipa air, karena di pinggir jalur ada pipa air. Kami menyusuri jalur tersebut dan kami mengalami kesusahan, karena jalur tersebut betul-betul jalur terjal. Disebelah kiri tebing yang tertutup rumput, disebelah kanan jurang yang sangat dalam. Kami harus berhati-hati saat melangkahkan kaki karena jika salah langkah, nyawa kami yang jadi taruhannya.

Setelah berjalan selama 2 jam kami menjumpai kawah kecil di sebelah mata air. Kawah kecil ini hanya mengeluarkan air mendidih dengan beberapa titik uap dan tidak banyak mengeluarkan gas belerang atau sejenisnya. Kami melewatinya dan sedikit mengabadikan gambar dari kawah tersebut. Kami langsung menuju mata air dan mengambil air sesuai tempat air yang kami bawa. Kami juga minum sepuasnya untuk menghilangkan rasa haus dan menambah energi. Kami melanjutkan perjalanan dengan melewati alang-alang yang tinggi, bahkan alang-alangnya lebih tinggi dari kami. Setelah melewati alang-alang kami harus menaiki bukit dan memutari bukit yang diberi nama bukit kukusan. Kami pun melewatinya dengan susah payah dan setelah semuanya terlewati apa yang selanjutnya kami hadapi ??? Kami melihat tebing dihadapan kami, yang kira-kira tebing tersebut hampir 90 derajat kemiringannya. Kami sedikit kecewa dengan pilihan jalur ini, dan kami sempat memutuskan untuk balik ke jalur sebelumnya. Namun setelah memperhitungkan waktu, kami hanya punya waktu sekitar 1 jam dan setelah 1 jam tersebut kami harus mendapatkan tempat untuk mendirikan tenda, karena jika tidak mendirikan tenda kami akan kedinginan dan bahkan parahnya lagi kaki dan tangan kami akan kram karena kondisi kami sudah sangat kelelahan. Mengapa itu terjadi, karena saat kami mendaki cuaca di atas gunung tersebut sedang ekstrim. Bahkan di malam sebelumnya suhu di sekitar puncak mencapai 8 derajat celcius. Perubahan suhu terjadi saat waktu maghrib tiba atau sekitar pukul 17:45 wib.


Pemandangan di Gunung Kukusan

Dengan kepercayaan diri tinggi kami mencoba mendaki tebing dengan sedikit pepohonan kecil tersebut. Langkah kami mulai berat, sedikit gemetar dan sudah tidak bertenaga. Kami tetap berusaha, setidaknya kami harus sampai di tempat yang agak rata, agar kami bisa mendirikan tenda. Ternyata bukan hanya kami yang melewati jalur terabasan ini, di belakang kami terlihat ada segerombolan orang. yang kira-kira berjumlah 6 orang. 

Mereka terlihat sangat kelelahan, itu terlihat dari muka mereka yang lesu dan tidak bergairah lagi. Kami terus berusaha mendaki tebing ini karena waktu yang tersisa tinggal 30 menit saja, dan udara dingin pun mulai terasa. Tangan mulai sulit digerakkan, dan jika di paksakan akan terasa sakit sedangkan kami belum memperoleh tempat yang  rata untuk berdiri tenda. Akhirnya dengan waktu kurang dari 5 menit kami menemukan tempat yang agak rata. Kami langsung membuka tenda dan mendirikannya, kami kesulitan dalam mendirikan tenda, karena tempat itu bukan tanah rata, tetapi tanah miring yang di penuhi rumput alang-alang. Namun dengan alasan darurat kami mencoba memaksakan tenda agar bisa berdiri. Tangan kami semakin dingin dan terasa sakit saat kami mendirikan tenda. 

Akhirnya tenda jadi, dan kami dengan cepat masuk kedalam tenda. Kami segera menghidupkan kompor dan merebus air, dengan tujuan air bisa menghangatkan tubuh kami. Karena kami harus terus menjaga suhu tubuh kami agar kram atau bahkan hipotermia tidak terjadi pada kami. Kami mencoba makan dan minum yang bisa menjaga kestabilan suhu tubuh seperti coklat, susu jahe, dan lain-lain.

Suhu tubuh sudah normal dan kami bisa bercanda bersama. Angin terdengar sangat kencang berhembus menerpa tenda kami. Seakan terdengar gemuruh suara hujan, tapi itu adalah suara angin. Kami tidak bisa bayangkan seperti apa dinginnya jika kami keluar tenda. Di dalam tenda aja dingin banget, padahal sudah pakai jaket tebal, sarung tangan, kaos kaki, terus pakai sleeping bag. Kami gak tahu berapa suhu pada malam itu. Tapi menurut aku itu adalah pendakian terdingin yang pernah aku rasakan.

Angin berhembus semakin kencang, gemuruh pun semakin tidak karuan. Terpaksa kompor kami hidupkan terus untuk menjaga suhu di dalam tenda. Kami pun tidak ada yang bisa tidur, hanya bisa berdoa agar selamat. Malam terus berlalu dan dingin semakin menjadi. Kami sudah melawannya dengan minum air panas, banyakin makan, tetapi tetap ajha dinginnya subhanallah. Jarum jam menunjukkan pukul 3 pagi, aku coba memberanikan diri untuk masak. Dengan tangan gemetar kunyalakan kompor dan masak.

Masak selesai dan ku bangunkan teman-temanku. Mereka belum mau bangun, masih dingin katanya. Terpaksa aku makan sendiri dan kusisakan buat temanku. Dan sedikit ku intip keluar tenda,pagi itu terlihat sangat cerah dan sunrise pun akan berhasil. Saya mempersiapkan diri menulis sedikit pesan di selembar kertas, entah ini ikut-ikut tren atau apa tapi itulah yang aku lakukan. 


Terlihat Gunung Sumbing, Gunung Sindoro,
dan Bukit Prau disebelah barat
Teman-temanku masih tidur pulas dan aku keluar tenda sendirian. Ternyata kami sudah berada di bawah puncak. Sekitar 5 menit lagi sampai puncak. Pantes saja semalem anginnya sangat kencang dan seakan tenda mau terbang. Aku pun berfoto-foto sesuka ku sampai teman-temanku bangun. Pukul 06:00 Wib temanku bangun dan mereka menghangatkan tubuh mereka dengan sarapan dan kopi pagi. Setelah itu kami berkemas menggulung tenda dan mengemasi barang-barang.

Kami melanjutkan perjalanan menuju ke Puncak Kenteng Kenteng Songo atau Trianggulasi. Karena posisi kami sudah di bawah Puncak tersebut maka kami tidak ke Puncak Syarif, karena kalo ke puncak syarif harus balik ke bawah sekitar 30 menit. Kami berjalan dengan membawa tas di punggung dengan menenteng jirigen air. Kami sengaja membawa semua peralatan, karena kami akan turun lewat jalur selo. Kami menikmati setiap kedip mata dan setiap hirupan udara. Sungguh nikmat yang luar biasa dari sang pencipta. Pemandangan yang sangat menarik di tawarkan oleh Gunung Merbabu. Ini adalah pemandangan terbaik yang pernah aku lihat dari semua pendakian yang telah aku alami.


Disebelah utara terpampang Gunung Telomoyo, Gunung Andong, Gunung Ungaran dan Gunung Muria, disebelah barat terlihat  Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, Bukit Prau, dan pegunungan kecil lainnya. Disebelah selatan ada Gunung Merapi yang terlihat jelas karena kedua gunung ini berdampingan. Disebelah timur terlihat Puncak Hargo Dumilah Gunung Lawu. Dipuncak Kenteng Songo kita seakan berada di tengah-tengah Jawa Tengah. Kita juga bisa memandang keindahan kaki gunung merbabu.

Gunung Merbabu sangat favorit bagi pendaki kelas pemula ke menengah. Karena dibilang gampang tapi tracknya lumayan, namun dibilang susah juga gak begitu. Trek paling rame yaitu jalur selo, kemudian jalur wekas, dan disusul jalur yang lainnya.

Setelah kami foto-foto di Puncak Kenteng Songo dan puas dengan pemandangan yang ada, kami bergegas turun menuju sabana dua di jalur selo. Di jalur ini pun sama, treknya berdebu juga, bahkan lebih parah. Kami turun serasa naik sky. Karena bisa merosot di pasir. Sampai di sabana 2 kami istirahat sejenak, buka tenda lagi dan tidur siang.

Aku tidak bisa tidur, karena siang itu cuaca sangat terik dan di dalam tenda terasa panas. Akhirnya aku berkeliling dan foto pemandangan disekitar, yah menghabiskan memory yang tersisa. Menikmati pemandangan pegunungan itu serasa merefresh semua masalah dari kepala. Hanya senang dan senang yang dirasakan, bahkan capek pun tidak terasakan lagi.

Sekitar pukul 11:30 Wib kami berkemas kembali dan memutuskan untuk turun menuju base camp. Kami siap dan kami berdoa bersama karena pendakian telah sukses dan telah menjadi saksi keindahan alam dari gunung merbabu. Kami turun bersama rombongan lain yang juga turun melalui jalur ini. Pendakian kali ini rame sekali, karena dibarengi libur panjang. Namun banyak yang membuat kami ketawa, para pendaki terlihat cemong, bibir hitam akibat debu, kemudian pipi terlihat kasar dan berdebu. Haha kami sendiri pun seperti itu dan kami ketawa ketika melihat wajah kami melalui smartphone. 

Trek di jalur selo ini lumayan jauh, dan cukup melelahkan, namun untuk tanjakan tidak terlalu ekstrem. Hanya tanjakan menengah yang masih dianggap gampang bahkan oleh pendaki cewek. Kami di uji dengan trek yang panjang, kami harus berjalan 5 jam dari sabana 2 menuju base camp selo. Akhirnya kami sampai di base camp dan di sambut oleh penjual cilok.

Sambil istirahat kami menikmati cilok, sembari bercerita tentang jalur pendakian. Kami juga mengobrol dengan pendaki lain dan menanyakan asal mereka. Karena kami akan menuju ke Magelang kami harus mencari teman untuk bisa sewa mobil pick up. Akhirnya banyak juga yang menuju magelang, akhirnya kami menaiki pick up dengan ongkos 25.000 menuju Magelang. Dari Magelang kami menaiki bus menuju Semarang kemudian dari Semarang kami naik kereta menuju Jakarta.

Akhirnya pendakian ini berjalan lancar, dan kami sampai di Jakarta dengan selamat. Sungguh pengalaman pendakian yang luar biasa karena perjuangan yang sangat keras untuk bisa melakukan pendakian ini. Namun berita buruk menghampiri telinga kami. Pagi setelah kami sampai di Jakarta terlihat berita di Tv bahwa telah terjadi kebakaran hutan di Gunung Merbabu dan setidaknya kebakaran itu meluas dan belum bisa di padamkan, penyebab kebakaran tersebut adalah penduduk sekitar yang membakar sampah di ladang mereka. Kami langsung dag dig dug, antara sedih karena alam rusak dan sedikit lega karena kami sudah turun dari gunung tersebut.

Demikian ceritaku tentang pendakian Gunung Merbau, semoga bisa membantu anda yang ingin mendaki Gunung Merbabu. Share informasi ini jika menurut anda informasi ini bermanfaat dan membantu kerabat atau saudara anda. Kritik dan saran kami tunggu untuk kemajuan blog ini.

Kunjungi 25 wisata ini jika kamu berada di Kabupaten Purworejo

Purworejo adalah Sebuah Kabupaten di Jawa Tengah. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Magelang di sebelah utara, Kabupaten Kulon Progo (Provinsi Yogyakarta) di sebelah timur, Kabupaten Kebumen di sebelah barat, dan Samudera Hindia di sebelah selatan.


Pembagian administratif Purworejo Terdiri dari 16 Kecamatan, 25 Kelurahan, dan 469 Desa. Kabupaten Purworejo terletak pada posisi 109 derajat  47’28” – 110 derajat  8’20” Bujur Timur dan 7 derajat  32’ – 7 derajat 54 Lintang Selatan. Secara topografis merupakan wilayah beriklim tropis basah dengan suhu antara 19 C – 28 C, sedangkan kelembaban udara antara 70% - 90% dan curah hujan tertinggi pada bulan Desember 311 mm dan bulan Maret 289 mm.

Di Kabupaten ini terdapat banyak tempat wisata, dan inilah 25 tempat wisata favorit di Purworejo.




Pantai Jatimalang adalah pantai andalan wisata Purworejo. Pantai ini menyimpan keindahan dan keelokan yang sangat menakjubkan dan berbeda dari pantai yang lainnya. Di pantai ini pengunjung dapat melakukan banyak kegiatan wisata, diantaranya bermain pasir pantai, pasir disini sangat lembut dan asyik jika kita berenang bersama keluarga. Bagi anda yang tidak suka bermain pasir laut, atau takut ombak, anda jangan kuatir karena di sepanjang pinggir pantai juga tersedia banyak kolam renang air tawar. Keindahan Sunset dari Pantai Jati Malang juga jangan anda lewatkan.  Disini anda dapat bersantai di sore hari dengan menikmati pemandangan terbenamnya matahari. Anda juga akan dimanjakan dengan masakan khas dari warung di sepanjang pantai Jati Malang, Anda akan rugi jika tidak mencoba kuliner di Pantai Jati Malang.

Pantai Jatimalang terletak di Desa Jatimalang, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo termasuk jajaran Pantai Selatan kurang lebih 17 km dari kota Purworejo, Sebelah Timur berbatasan dengan Pantai di kawasan Yogyakarta, sebelah barat berbatasan dengan pantai-pantai kecil di daerah Purworejo.


2. Sunrise di Pantai Ketawang



Pantai Ketawang adalah pantai yang berada diselatan Pulau Jawa, Tepatnya di Ketawang, Purworejo, Jawa Tengah, Indonesia. Seperti halnya ciri khas pantai selatan, pantai ini juga memiliki ombak yang sangat besar, bisa mencapai ketingian 3 meter. Pantai Ketawang ini memiliki bibir pantai yang sangat luas, dengan hamparan pasirnya yang lembut.



Obyek wisata yang terletak di desa Ketawang, Kecamatan Grabag + 18 km dari Purworejo, terletak di wilayah Kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo. Pintu masuk dari Desa Ketawang, namun wilayah pantai meliputi garis pantai sepanjang kurang lebih 3 km sampai pantai Pasir Puncu dari Kutoarjo sekitar 12 km, bisa juga dari arah Jogja dan Kebumen lewat jalur selatan yang sudah didukung prasarana jalan yang sangat bagus.


3. Menikmati Uniknya Pantai Keburuhan


Pantai Keburuhan terletak di Desa Keburuhan, Kecamatan Ngombol. Kabupaten Purworejo. Letaknya berseberangan dengan Pantai Pasir Puncu yang ada di Kecamatan Grabag. Untuk ke sana bisa dengan motor atau mobil, bahkan bus kecil pun sudah bisa masuk ke area parkir pantai Keburuhan.
Disana ada wisata susur sungai. Kita menyusuri sungai sepanjang sekitar hampir 3km. Dengan menaiki kapal, kita disuguhkan pemandangan di pinggir sungai. Kita juga akan melewati beberapa jembatan yang ada.
Suasana di pantainya sendiri cukup bersih. Namun Pantai Keburuhan dilarang untuk digunakan mandi karena ombaknya yang dinilai cukup berbahaya untuk mandi para wisatawan. Tapi disana kita akan disuguhipemandangan pantai yang indah. Pada saat sore hari, kita bisa juga melihat indahnya matahari terbenam.


4. Cocok untuk bersantai di Pantai Puncu


Pantai Pasir Puncu Terletak dua puluh dua kilometer dari Kota Purworejo atau sebelas kilometer dari Kota Kecamatan Kutoarjo ke arah selatan, tepatnya di Hardjobinangun dan Ketawang Kecamatan Grabag, kita dapat menikmati wisata bahari Pantai Pasir Puncu dan Ketawang. Kawasan ini memiliki pesona tersendiri dengan panorama Pantai Laut Selatan yang menarik dan menawan. Perjalanan wisata ke kawasan tersebut sungguh memikat. 

Dari kota Kutoarjo, di sepanjang jalan wisatawan dapat menyaksikan berbagai keindahan dan keunikan alam Purworejo berupa hamparan sawah di kiri-kanan jalan dan rangkaian Pegunungan Geger Menjangan yang menakjubkan.
Pantai Pasir Puncu memiliki keistimewaan yang jarang diperoleh di tempat lain. Tempat ini merupakan muara kali Rebung, Kali Kedungmacasan dan Kali Pedegolan. Ketiga kali yang berbapu menyatu menjadi satu muara yang kemudian dikenal sebagai sungai jali ini menciptakan suatu pesona yang cukup langka. Kondisi ini semakin lebih indah tatkala gelombang air laut menggulung kepantai menyambut kedatangan air sungai. Perpaduan antara air sungai yang berwarna keruh dengan air laut yang berwarna biru itu menghasilkan pemandangan sangat indah.


5. Wisata Alam Curug Silangit


Curug Silangit merupakan tempat wisata di Purworejo yang merupakan  wisata unggulan  kota Purworejo. Dinamakan Curug Silangit karena ketinggian curug ini mencapai  50 meter yang dibagi atas 3 tingkatan curug. Pada curug paling atas setinggi 30meter, curug kedua dan ketiga memiliki tinggi yang sama yaitu 10 meter. Curug ini dikenal memiliki kedalaman kedung yang sangat dalam. Akses ke Curug Silangit dapat ditempuh dengan kendaraan umum atau kendaraan pribadi dan letaknya pun mudah dijangkau karena lokasinya berada di Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo.



6. Curug Muncar


Kaliwungu, sebuah desa yang terletak di kecamatan Bruno, kabupaten Purworejo ini mungkin kurang dikenal. Desa ini terletak 45 Km arah barat laut pusat kota Purworejo. Wajar saja, desa yang ada di daerah pegunungan ini memang letaknya cukup terpencil. Akses menuju desa ini hanya ada satu yaitu Jl Kutoarjo-Wonosobo. Untuk mencapai desa ini diperlukan waktu sekitar 40 menit dari Kutoarjo. Jalan yang cukup sempit dan berliku-liku menjadi tantangan tersendiri bagi pengendara. Hutan, tebing, sungai, dan jurang menjadi pemandangan yang lazim sepanjang perjalanan. Penerangan yang sangat minim serta rusaknya jalan di beberapa tempat membuat pengendara harus ekstra hati-hati saat melintas malam hari. Namun demikian, desa ini menawarkan panorama alam pegunungan yang masih asri. Selain itu, di desa ini juga terdapat sebuah air terjun dengan ketinggian mencapai puluhan meter. Keindahan air terjun ini dapat dilihat dari jarak beberapa kilometer karena letaknya yang berada di tengah-tengah lereng pegunungan. Air terjun ini oleh masyarakat sekitar dikenal dengan nama Curug Muncar.



7. Curug Tawing


Berada di perbukitan yang cukup terjaga kelestariannya di samping memiliki alam yang masih hijau juga terdapat Hutan Pinus milik Perhutani membuat desa Tlogoguwo mempunyai sumber mata Air yang berlimpah.Terletak di sisi barat bukit hutan pinus,tepat di sisi tebing sebelah utara dari goa Anjani terdapat mata air besar bak sungai yang keluar dari bebatuan dan merupakan sumber Air terjun yang di sebut “Air terjun Curug Tawing”

Nama Obyek wisata “Curug Tawing” sendiri berasal dari istilah bahasa jawa “curug” yang berarti air terjun dan “tawing” merupakan istilah yang berarti Tebing,atau bisa kita sebut air terjun yang berasal dari atau berada di tebing.
Memiliki ketinggian 100 meter berundak undak serta air yang cukup jernih membuat air terjun ini cukup menarik.Karena air terjun Curug Tawing langsung keluar dari mata air jadi tidak kita dapatkan sampah non organik yang ikut larut dalam aliran air terjun “Curug Tawing” ini.
Terdapat mitos jika meminum langsung ataupun mandi air di “Curug Tawing” akan memberikan kesehatan,awet muda dan kesegaran .Hal tersebut tidak lain karena masih terjaganya kualitas air serta kualitas udara di lingkungan obyek wisata air terjun “Curug Tawing” serta sensasi kesegaran yang bisa kita rasakan di desa Wisata Tlogoguwo.


8. Curug Siklothok


Curug Siklotok di Desa Kaligono Kecamatan Kaligesing, ikon baru pariwisata Kabupaten Purworejo. Banyak yang bilang objek wisata di kawasan Perbukitan Menoreh itu tidak kalah bagus dengan Tawangmangu atau Baturaden. Butuh perjuangan melintasi jalan setapak berbatu dan sedikit mendaki bukit.

Berkunjung ke Curug Siklotok, wisatawan akan mendapat suguhan keindahan tiga tingkat air terjun. Air terjun paling bawah bernama Curug Siklotok dengan ketinggian kurang lebih 30 meter. Air terjun tanpa nama dengan ketinggian sepuluh meter berada di atas Siklotok. Lalu paling atas terdapat Curug Silangit dengan ketinggian sedikitnya 60 meter.
Selain itu, terdapat pemandian di bawah air terjun Siklotok, bernama Kedung Bunder yang maksimal memiliki kedalaman dua meter. Sementara di atas curug terdapat Kedung Sedandang (4,75 meter), Kedung Lesung (2,5 meter) dan Kedung Kuali (3,25 meter) dan Kedung Kendit di tengah Curug Silangit, sehingga tidak bisa dijangkau manusia. Namun ada larangan keras untuk mandi atau bermain air di ketiga lubuk tersebut


9. Curug Sido Asri


Wisata alam air terjun (curug) ini terletak di Desa Sidoleren, Kecamatan Gebang, Kabupaten Purworejo. Aksesnya cukup mudah dari Kota Purworejo, bisa dilakukan dengan angkutan umum atau kendaraan pribadi, yaitu menuju Desa Sidoleren, Kecamatan Gebang. Jalan yang di lewati sedikit menanjak, dan menjadi tantangan tersendiri buat anda pecinta alam.





10. Curug Lumbung


Potensi wisata Curug Lumbung di Padukuhan Krandon, Desa Karangsari, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo kini telah menarik banyak wisatawan yang ingin menikmati keindahan wisata alam air terjun tersebut. Ini sangat cocok bagi anda yang ingin menikmati wisata alam air terjun dengan biaya yang sangat murah.








11. Curug Kyai Kate


Curug Kyai Kate terletak di desa Gunung Condong, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Curug yang dikelilingi tebing dengan hutan pinus dan beberapa tumbuhan rimbun lainnya ini adalah curug yang cukup deras dengan aliran sungai. Rute trekking menuju lokasi cukup mudah tapi juga lumayan jauh, karena rute trekking berupa jalan setapak yang menurun karena warga setempat biasa mencari kelapa dan hasil kebun lainnya disini maka kami beberapa kalo berpapasan dengan penduduk yang ramah, oiya biasanya curug Kyai Kate juga biasa digunakan sebagai spot memancing oleh warga setempat, jadi untuk kalian yang hobi memancing bisa dicoba memancing sambil menikmati derasnya curug Kyai Kate.


Trekking menuju lokasi kurang lebih 20 menit, jalan menuju lokasi berupa turunan dan relatif mudah dilalui, namun trekking menuju tempat parkir sekitar 45 menit karena jalan menanjak hehe. Sepanjang perjalanan menuju lokasi kami ditemani aliran sungai dan gemerciknya, dan kami sempat heran karena kami jalanmenuju hilir sungai, bukan hulu sungai, karena biasanya curug terdapat di hulu sungai, dan ditengah perjalanan rasa heran kami terjawab, karena ternyata terdapat 2 buah sungai yang bertemu atau bahasa kerennya ‘tempuk’, dan hulu sungai satunya mengantarkan kami ke curug Kyai Kate. dari kejauhan terdengar derasnya gemuruh air jatuh dan ternyata sesuai yang kami pikirkan, airnya sangat deras dan luar biasa.


12. Curug Gunung Putri



Curug Gunung Gunung Putri terletak di Desa Cipedak Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo. Banyak sekali keindahan alam yang tersembunyi di Kab. Purworejo mulai dari goa, pegunungan, tamanya, sampai air terjung yang lebih sering dikenal dengan nama "curug". kali ini saya akan mengenalkan curug yang di beri nama curug Gunung Putri. air terjun atau curung ini terletak di desa Cimpedak, Kec Bruno, Kab Purworejo. Curug Gunung Putri ini memiliki keindahan yang luar biasa karena curug ini memiliki ketinggian 300 meter selain itu lumut - lumut yang indah juga menghiasi curug ini. karena lokasinya yang sedikit jauh dari pemukiman warga masih jarang orang mengetahui air terjun yang indah ini. sebaiknya anda membawa bekal sendiri karena masih jarang penjual makanan di kawasan curug ini.





Goa Seplawan terletak di Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing dengan jarak tempuh + 20 km ke arah Timur dari pusat kota Purworejo dengan ketinggian 700 m dpl sehingga udaranya sangat sejuk. Goa ini memiliki ciri khusus berupa ornamen yang terdapat di dalam goa, antara lain staklatit, staklamit, flowstone, helekit, soda straw, gower dam dan dinding-dindingnya berornamen seperti kerangka ikan. Panjang Goa Seplawan + 750 m dengan cabang-cabang goa sekitar 150-300 m dan berdiameter 15 m. Goa alam yang sangat menakjubkan ini menjadi semakin terkenal dengan diketemukannya arca emas Dewa Syiwa dan Dewi seberat 1,5 kg pada tanggal 28 Agustus 1979 yang sekarang arca tersebut disimpan di Museum Nasional Jakarta.



14. Goa Nguwik


Lokasinya goa tersebut berada di Padukuhan Katerban, Desa Donorejo, kecamatan Kaligesing. Tetapi lokasi wisata yang sedikit tersembunyi, membuat goa ini jarang sekali didatangi pengunjung.

Goa Nguwik sendiri pernah menjadi saksi penemuan fosil hewan purbakala setahun silam. Kendati begitu hebihnya penemuan hewan tersebut tidak cukup mampu membuat pamor goa ini menggeliat. Goa ini diketahui memiliki panjang sekitar 220 meter. 
Goa Nguwik sendiri sebenarnya memiliki potensi wisata yang tidak kalah keren dibanding goa seplawan. Sayangnya, beberapa fasilitas pendukung belum mampu dioptimalkan, seperti jalan setapak sebagai akses menuju lokasi wisata yang masih berantakan serta tidak ada MCK.  Belum adanya penerangan goa juga disinyalir yang menjadi kendala Goa Nguwik ini sepi dari wisatawan.


15. Taman Sidandang


Taman Sidandang berlokasi di Dusun Kedungrante, Desa Kaligono, Kec Kaligesing, Kab Purworejo, Jawa Tengah. Mudah dijangkau baik dari Purworejo maupun dari Jogja, karena lokasinya ada di jalur alternatif Purworejo - Jogja via Kaligesing, tepatnya di sebelah atas persimpangan menuju Goa Seplawan.

Tiket masuknya murah banget, dengan membayar cuma 3 ribu rupiah per orang kita bisa masuk mengexplore area Taman Sidandang.





16. Bukit Geger Menjangan


Geger Menjangan adalah nama suatu tempat di Purworejo, tempat itu berada di atas bukit.

Di puncak bukit tersebut terdapat sebuah bangunan kecil berupa gardu pandang. 
Nah, dari gardu pandang tersebut dapat dilihat keindahan pemandangan kota Purworejo secara landscape.
Bukit Geger Menjangan terletak di desa Trirejo, kecamatan Loano, kabupaten Purworejo.
Kurang lebih 2 km ke arah timur laut dari alun-alun Purworejo. Letak Geger Menjangan berada di kawasan pegunungan yang masih termasuk ke dalam barisan bukit Menoreh.


17. Hutan Wisata Kusumo Asri


Keindahan alam Purworejo memang sangat potensial, hal ini dibuktikan dengan adanya wisata alam bernuansa hutan yang sangat dikelola dengan baik oleh pemerintah daerah Purworejo. Tempat wisata di Purworejo ini juga merupakan perkemahan yang bisa juga digunakan untuk sarana outbond dan kegiatan adventure dengan keindahan hutan pinusnya. Di wisata alam hutan ini juga terdapat kebun binatang mini yang memiliki koleksi binatang yang terawat dan bersahabat bagi anak-anak. WIsata Alam Hutan Purworejo atau biasa disebut Kusumo Asri ini terletak di Desa Mayungsari, Kecamatan Bener, Purworejo.



18. Museum Tosan Aji


Tosan Aji terletak di Jalan Mayjend Sutoyo, sebelah Selatan Alun-alun Purworejo. Di museum ini tersimpan berbagai macam keris dan tombak yang berasal dari masa Majapahit hingga sekarang. Selain itu juga tersimpan Yoni dan Lingga serta benda-benda cagar budaya prasejarah. Setiap tanggal 1 Muharram atau 1 Sura ditempat ini dilaksanakan Jamasan Tosan Aji yang dilanjutkan dengan kirab benda-benda pusaka di kota Purworejo dan Ruwatan Bersama yang dapat diikuti oleh masyarakat luas.



19. Masjid Agung, Bedug Terbesar di dunia


Bedug adalah alat musik tabuh seperti gendang. Bedug merupakan instrumen musik tradisional yang telah digunakan sejak ribuan tahun lalu, yang memiliki fungsi sebagai alat komunikasi tradisional, baik dalam kegiatan ritual keagamaan maupun politik. Di Indonesia, sebuah bedug biasa dibunyikan untuk pemberitahuan mengenai waktu sholat atau sembahyang umat muslim. 

Kabupaten Purworejo merupakan salah satu daerah yang memiliki aset yang sangat dibangga-banggakan oleh seluruh masyarakat Purworejo, yaitu bedug Kyai Bagelen. Bedug Kyai Bagelen dikenal juga dengan Bedug Pendowo, karena kayu yang digunakan untuk pembuatannya berasal dari daerah Pendowo, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo. Bedug Pendowo merupakan bedug terbesar di dunia dalam artian bedug ini merupakan bedug terbesar yang dibuat dari kayu gelondongan yang utuh, tanpa adanya sambungan. Inilah yang menjadikan keistimewaan tersendiri dibandingkan bedug-bedug besar lainnya yang ada di dunia. Saat ini Bedug Pendowo diletakkan di masjid Agung Kota Purworejo (Masjid Darul Muttaqien).


20. Wisata Benteng Pendem


Benteng Pendem terletak di perbukitan Dukuh Kaliwaru, Dusun Bapangsari Krendetan, Kec. Bagelen di ketinggian 200 m di atas permukaan laut. Benteng Pendem ini merupakan peninggalan tentara Jepang yang dibangun pada 1945 dengan jumlah seluruhnya 29 buah. Di masa perang dulu tujuan dibangunnya benteng ini adalah sebagai tempat pertahanan dan pengintaian Jepang dalam menghadapi musuh, terutama yang datang dari arah Laut Selatan. Sayangnya, sebagai saksi bisu sejarah, benteng ini kurang terawat. Di masa datang diharapkan benteng ini dapat menjadi perhatian Pemda terutama aspek perawatannya sehingga dapat menarik minat wisatawan untuk berkunjung. Selama ini lokasi Benteng banyak dikunjungi muda-mudi sebagai tempat rekreasi.



21. Pesona Gunung Kunir, Spot Sunrise Terbaik, terbagus di Purworejo


Gunung Kunir terletak di Desa Benowo, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Jawa tengah. dari kota Purworejo ambil ke arah Magelang, sampai di Perampatan Kaliboto (yang ada kantor pos nya) masuk ke arah kanan (Gapura), lurus sekitar 2 km ambil yang arah kanan ke Desa Kaliwader, dari Kaliwader lurus jalan sekitar 7 km untuk sampai ke Desa Kalitapas (Pertigaan ke arah kiri). lalu naik sekitar 500 m sampai di pertigaan (ambil ke arah kanan jalanan rabat beton) menuju ke Desa Benowo. dari situ perjalanan naik ditempuh sekitar 4 km untuk sampai di perempatan SD Benowo (ambil arah kanan, lurus 200 m ambil ke kiri). dari situ jalan rabat beton sudah sampai titik terakhir yang bisa di lalui motor. itu artinya perjalanan di lanjutkan dengan berjalan kaki. dari parkiran motor ambil ke arah kanan naik (bukan kanan turun). Gunung Kunir yang gagah sudah kelihatan dan hanya berjalan tidak sampai 15 menit kita akan sampai di Puncak Gunung Kunir dengan ketinggian sekitar 980 Mdpl.



22. Gunung Bengkuk


Bila berkunjung ke Purworejo, Jateng jangan lupa mampir di Gunung Bengkuk yang berada Desa Cepedak Kecamatan Bruno. Kurang lebih 1 jam dari pusat Kota Purworejo.

Di Gunung Bengkuk, Anda bisa menikmati tiga keindahan panorama sekaligus, yakni pemandangan saat matahari terbit, 4 Gunung di Kedu seperti: Merapi, Merbabu, Sumbing, dan Sindoro. Waduk Wadas Lintang, gulungan awan putih yang menyeliputi pohon pinus dan bila malam tiba bisa melihat kota purworejo dan sekitarnya.
Anda bisa menikmati eksotisme alam terutama hamparan awan putih yang menyelimuti perkampungan dan pegunungan yang ada di wilayah Bruno dan Kabupaten Wonosobo seakan berada di negeri atas awan.
Wisatawan diberikan dua alternatif perjalanan yang menjadi pilihan untuk sampai puncak Gunung Bengkuk. Jika ingin berjalan kaki, membutuhkan waktu sekitar 1,5 hingga dua jam agar sampai puncak gunung dengan ketinggian 1.067 mdpl. “Jika ingin tantangan yang berbeda, komunitas motor trail desa setempat dapat membantu mengantarkan pendaki hingga puncak.


23. Stasiun Kereta Api Purworejo


Menjadi salah satu wisata menarik di Purworejo. Stasiun Kereta Api Purworejo terletak di Jalan Mayjen Sutoyo Purworejo, atau tepatnya di sebelah selatan Pasar Suronegaran. Stasiun ini termasuk stasiun kecil yang berada di tengah kota, namun stasiun tersebut memiliki sejarah yang panjang. Stasiun ini dibangun oleh Perusahaan Kereta Api Negara Staatsspoorwagen (SS). Stasiun Purworejo adalah merupakan warisan peninggalan kolonial Belanda yang dibangun pada tahun 1887. Pemerintah Kolonial Belanda saat itu sengaja membangun rel kereta api sepanjang 12 KM dari Stasiun Besar Kutoarjo ke arah Stasiun Purworejo, diperkirakan awalnya hanya dibangun rel saja namun seiring perkembangannya, jalur itu semakin ramai sehingga pada tanggal 20 Juli 1887 dibangunlah Stasiun Purworejo, dengan struktur bangunan berupa bahan beton setinggi delapan meter dan luas keseluruhan sekitar 848 meter persegi.



24. Alun-alun Purworejo , Alun-alun Terluas di Jawa Tengah


Pada jaman dahulu, alun-alun adalah simbol kejayaan sebuah wilayah, baik itu kerajaan, kadipaten ataupun kabupaten. Alun-alun Purworejo merupakan alun-alun kabupaten lama yang cukup luas. Bahkan, yang terluas di Jawa Tengah. Luas alun-alun Purworejo enam hektar atau 60.000 meter persegi dengan bentuk segi empat. Baik panjang maupun lebar ukuranya hampir sama.








25. Rafting Sungai Bogowonto


Arung Jeram kini menjadi andalan utama wisata alam dan olahraga di Kabupaten Purworejo. Arung Jeram memanfaatkan aliran Sungai Bogowonto yang membentang dari Keamatan Bener, Loano, Purworejo, Bagelen hingga Kecamatan Purwodadi. Diakui, meskipun aliran Sungai Bogowonto cukup membahayakan karena banyak unsur bebatuan, namun jika para pengunjung bersedia mematuhi aturan yang diberikan instruktur, diyakini bakal aman.



Demikian informasi yang dapat saya sampaikan, like dan saran anda sangat membantu untuk pertumbuhan blog ini.