Showing posts with label Wisata Gunung. Show all posts
Showing posts with label Wisata Gunung. Show all posts
Pendakian Gunung Ciremai 3078 mdpl via Palutungan
Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap 17 Agustus kami selalu berada di Puncak Gunung. Dan ditahun ini kami memutuskan untuk mendaki Gunung Ciremai. Sebelum mendaki kami mencari informasi sebanyak mungkin dari mbah Google terkait pendakian Gunung Ciremai.
Sebelum kami menceritakan tentang pengalaman mendaki Gunung Ciremai,mari kita cari tahu dulu tentang Gunung Ciremai. Gunung Ciremai adalah Gunung berapi kerucut yang secara administratif berada pada dua kabupaten, yakni Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat. Gunung ini merupakan atap Jawa Barat alias gunung tertinggi di Jawa Barat.
Puncak Gunung Ciremai dapat kita capai melalui banyak jalur pendakian. Diantaranya :
1. Jalur Linggarjati Kab Kuningan
2. Jalur Palutungan Kab Kuningan
3. Jalur Apuy Kab Majalengka
4. Jalur Linggasana Kec Cilimus Kab Kuningan
Ini adalah 4 jalur populer yang sering dilewati oleh pendaki, dan jalur ini aman untuk pendaki-pendaki pemula, namun jika kita mau melakukan perbandingan Jalur Linggarjati adalah jalur paling favorit para pendaki, selanjutnya Jalur Palutungan adalah jalur paling pendek jaraknya. Jalur Apuy pemandangannya luar biasa. Untuk lebih jelasnya bisa tanya-tanya kepada kelompok pecinta alam "AKAR" (Anak Kuningan Alam Rimba) yang dapat membantu menyediakan berbagai informasi dan pemanduan mengenai pendakian Gunung Ceremai.
Dari informasi di atas kami yang berjumlah 3 orang memutuskan untuk mendaki melalui jalur Palutungan. Kami start dari Jakarta, tepatnya di Jakarta Timur kami menaiki Bus Lur Agung dari pintu tol Cakung sekitar pukul 18:00 wib. Tarif Bus Lur Agung adalah 70.000. Jalanan sedikit macet dan kami pun sampai di Taman Cirendang sekitar pukul 22:30 wib. Dari Taman Cirendang kami menaiki ojek menuju basecamp karena angkutan sayur ataupun angkutan umum sudah tidak ada lagi. Biaya ojek 20.000 namun jarak yang kita tempuh lumayan jauh, ya bagi kami ini murah meriah, karena kalo jalan kaki capek juga,hahaha.
Basecamp Palutungan
Sampailah kami di Basecamp Palutungan, langsung saja kami menuju basecamp yang bangunannya tidak terlalu luas, cukuplah untuk menampung 50 orang. Kami memutuskan untuk bermalam di basecamp dan melakukan pendakian di pagi hari. Kami melakukan pendaftaran (simaksi) dengan tarif 50.000 per orang kemudian makan malam dan kami pun tidur. Selama kami tidur, angin berhembus sepoi-sepoi disertai hujan yang membuat cuaca sangat dingin. Terpaksa kami menebalkan selimut agar tidur lebih nyenyak untuk persiapan pendakian pagi nanti. Jarum jam seakan berjalan lebih lambat, karena sudah lama sekali kami tidur jarum jam masih menunjukkan pukul 03:00 pagi.
Pukul 04:00 pagi ada 2 orang pendaki yang baru sampai, saya pun mengobrol dengan mereka dan ternyata mereka berasal dari bekasi. Kebetulan sekali kita bisa mendaki bareng, dan mereka pun memutuskan untuk bergabung dengan kami sehingga kami berjumlah 5 orang. Tak lama berselang berkumandang Adzan Subuh, kami pun menunaikan sholat subuh dan dilanjutkan dengan sarapan pagi. Setelah sarapan pagi kami bergegas melakukan packing barang untuk segera melakukan pendakian. Ketika semua sudah siap, pukul 5:30 kami melakukan perjalanan dari basecamp menuju ke Pos 1.
Basecamp - Pos 1 (Cigowong)
Secara estimasi untuk mencapai Pos 1 kita harus menempuh perjalanan selama 2,5 jam. Kami pun berjalan secara perlahan melewati rumah-rumah warga, kemudian kami melewati lahan perkebunan, ada juga kandang sapi disekitar perkebunan. Selanjutnya kita masuk ke hutan pinus yang mana hutannya sangat rimbun sekali, kicauan burung yang indah sangat memanjakan telinga. Di jalur pendakian kita akan menjumpai warung yang menjual makanan untuk kebutuhan pendaki. Kita juga bisa menaiki motor cross jika kita ingin menghemat waktu, tentunya dengan biaya yang lumayan. Kami masih menjumpai beberapa ekor monyet yang bergelantungan di pohon-pohon, monyet ini tidk mengganggu pendaki, bahkan mereka pun tidak berani mendekati para pendaki. Perlu di ingat bahwa dari basecamp menuju Pos 1 trek pendakiannya sangat licin karena di dominasi tanah liat merah. Kami pun menikmati pendakian yang lumayan menyiksa ini, sepatu berat karena tertempel tanah liat. Selain itu hujan sesekali turun, memaksa kami harus memakai jas hujan, dan kami sempat terpleset karena permukaan yang licin. Hingga akhirnya kami sampai di Pos 1 pukul 08:15 wib, kami lebih lama 15 menit dari estimasi. Kami pun memutuskan istirahat di sebuah warung, karena hujan semakin lebat.
Pos 1 - Pos 2 (Kuta)
Setelah 20 menit beristirahat, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Pos 2. Kami menempuh waktu 30 menit untuk sampai di Pos 2, dengan trek yang semakin menanjak dan semakin licin, apalagi hujan tak kunjung reda. Sampai di Pos 2 kami hanya beristirahat untuk mengambil foto, kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju ke Pos 3.
Pos 2 - Pos 3 (Paguyangan Badak)
Dari Pos 2 kita berjalan memutari bukit menuju ke Pos 3, cukup landai sih treknya, tapi pepohonan disekitar trek sangat rimbun, membuat suasana menjadi mencekam karena gelup akibat mendung. Kami terus melanjutkan pendakian dan beberapa menit sekali kami istirahat untuk mengatur nafas. Hujan sedang masih mengguyur trek pendakian, membuat trek semakin licin, bahkan sesekali kami terpeleset secara bergantian. Alhasil 50 menit berjalan dari Pos 2 sampai juga kita di Pos 3, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Pos 4 karena sebelum Pos 3 kami sudah istirahat.
Pos 3 - Pos 4 (Arban)
Dari Pos 3 menuju ke Pos 4 trek di dominasi oleh tanjakan, di trek ini tenaga kami terkuras lumayan banyak dan memakan waktu yang banyak juga karena sering berhenti. Dengan semangat baja dan kekompakan kami, akhirnya kami sampai di Pos 4 dengan waktu tempuh 1 jam perjalanan. Kami memutuskan untuk istirahat, berhubung hujannya mulai reda, kami istirahatnya agak lama, hehe ngopi doeloe lah. Kami mengeluarkan kompor dan menyeduh kopi. Sembari mengendorkan otot-otot yang kaku, kami saling bercanda memecah kesunyian hutan. Perlu diingat saat anda istirahat di trek pendakian, usahakan kaki lurus jangan di tekuk, dan kalo bisa kaki di angkat alias di kasih tatakan biar lebih tinggi tumit daripada paha. Terapi ini jika dilakukan sangat membantu mengurangi rasa sakit pada kaki setelah pendakian, juga melancarkan alioran darah disekitar kaki, alhasil pendakian akan sukses karena fisik on fire. Sambil ngupi kita ditemani silverquen nih guys, yah gatau nyambung apa ga, yang jelas coklat adalah makanan penambah energi, jadi ya hajar ajha sih selagi ada, hahahaahahahaha.
Pos 4 - Pos 5 (Tanjakan Asoy)
Setelah lama beristirahat, kami berkemas untuk melanjutkan perjalanan. Kami akan menuju ke Pos 5, dari namanya ajha uda jelas kita akan melewati tanjakan. Dan ternyata tanjakannya emang asoy, kami sangat menikmati saat melalui tanjakan ini karena cukup ekstrim bagi kami dan sangat menguras tenaga. Namun dengan waktu 30 menit kami sampai di Pos 5.
Pos 5 - Pos 6 (Pasanggrahan)
Istirahat sejenak, dan kami melanjutkan perjalanan menuju ke Pos 6. Trek pendakian masih sama di dominasi oleh tanjakan-tanjakan ekstrim, dengan vegetasi hutan yang masih rimbun. Terlihat pohon-pohon besar masih ada di sekitar trek pendakian, menandakan bahwa puncak masih jauh, hehe. Kami pun terus berjalan dengan semangat membara, mengingat perjuangan Pahlawan bangsa yang memerdekakan Indonesia tercinta ini. Terpeleset, terjatuh, kram, kesakitan, terkilir, kesemutan, tergores kayu, dan lain-lainnya adalah resiko yang akan dialami oleh pendaki dan pendaki harus bangkit, tunjukan pada dunia kalo pendaki itu kuat, ga cengeng, tapi tetep lembut sesama manusia, ramah, sopan santun, cinta alam, cerdas dan peduli sesama.
1 jam berjalan, kami pun sampai di Pos 6. Kami beristirahat dan melihat lagi estimasi waktu untuk menuju puncak. Estimasi waktu menuju puncak dari Pos 6 adalah 2 jam, kami pun berunding terkait dimana istirahat mendirikan tenda. Dari pertimbangan yang kita sepakati akhirnya kami bermalam di Pos 6 ini, alasanya karena jarak menuju puncak sudah dekat, tenda yang berdiri lumayan banyak sehingga banyak teman untuk bermalam, lebih safety jika bermalam disini karena di Pos selanjutnya ada ancaman hewan babi menyerang.
Bermalam di Pos 6
Kami fix bermalam disini dan mendirikan tenda bersama. Saat kami mendirikan tenda terlihat segerombolan babi hutan melintas, kalo ga salah sih 5 ekor, yang 2 ekor gede banget, kaya kambing bandot, wawww seram banget ini gunung. Tapi setelah kami mencari informasi, babi ini tidak mengganggu, asalkan saat mengolah makanan kita ga jorok, jangan sampai ada bahan makanan tercecer atau sampah berserakan, karena akan mengundang mereka untuk datang dan mengobrak abrik tempat sekitar. Karena takut di acak-acak sampah makanan pun kami gantung pakai tali rafia, biar ga ada bau sisa makanan yang mengundang babi hutan.
Tenda berdiri dan kami mulai bergantian ganti pakaian, selanjutnya kami masak untuk makan sore. Setelah semua kenyang, kami bersantai di dalam tenda dengan posisi pintu tenda terbuka, menikmati suasana yang sangat sejuk ini dengan penuh rasa syukur. Angin berhembus menerobos masuk ke dalam tenda menyejukkan hati setiap insan yang di dalamnya. Sesekali kicauan burung memanjakan telinga, di barengi suara mp3 dari tenda-tnda sebelah.
Hari pun semakin gelup tanpa sadar waktu sudah menunjukkan pukul 17:40 wib. Persiapan sholat maghrib, kami mencari batu besar untuk tayamum. Kamudian kami sholat bergantian di samping tenda dengan beralaskan karpet plastik. Ada momen yang menegangkan, saat saya sholat maghrib. Saat rakaat kedua saya di samperin sama babi hutan, yang gede lagi. Babi hutan melintas di depan karpet dan spontan mengagetkan saya, terpaksa harus membatalkan sholat dan berlari menuju dalam tenda. Kaget bukan main, jantung berdetak mau copot, saya berteriak, woyyyy ada babi............. Teman saya kaget dan berlari mengambil kayu untuk mengusir babi tersebut. Ternyata babinya juga kaget dan lari terbirit-birit. Alhmadulillah babi hutannya kabur, dan saya bisa sholat dengan tenang meskipun teman saya menjaga saya dari belakang.
Hari semakin larut dan suhu udara semakin dingin, kami mencoba menghangatkan badan dengan rebusan wedan'k jahe. Nimatnya tiada tara, suasana sunyi sepi jauh dari hingar bingar seperti di kota metropolitan, dengan udara dingin ditemani segelas wedank jahe,,,, uhhhh nikmatnya..... Tapi masih ada yang kurang sih, kurang ditemani pasangan. Ciyeeeeee galau nih... wwkwkwkwkwkwkwkw
Pukul 22:30 wib, kami memutuskan untuk tidur, istirahat mencharge energi, mengingat besok masih ada perjuangan menuju puncak dan turun lagi sampai basecame. Tapi tidur kami dihantui rasa khawatir akan kedatangan babi hutan, karena tepat disebelah tenda kami, adalah perlintasan babi hutan tersebut, sering terdengar bunyi khas dari babi hutan ( kalian taulah suaranya gimana ) saat melintas di sebelah tenda. Namun karena lelah, kamipun tertidur pulas, dan bangun lagi pukul 03:30 pagi. Saat saya terbangun terdengar ada babi hutan disebelah tenda, saya pun mencoba menggoyangkan tenda agar babi hutannya kabur. Kemudian saya membuka jendela dan menyalakan senter untuk mengintip keluar. Waw babi hutan kabur setelah saya sorot matanya dengan senter dan saya pun kaget juga. Gila ya, ekstrem banget nih gunung. Untung pas tidur ga di acak-acak tenda kami.
Summit Attack
Lupakan masalah babi hutan, selanjutnya kita ngopi-ngopi sebelum memulai pendakian menuju puncak. Ketika semua sudah on fire, kami memulai perjalanan tepat di pukul 04:00 pagi. Berjalan perlahan menikmati denginnya udara pagi yang sesekali kabut menghalangi pandangan kami. Turunnya kabut membuat udara semakin menggigil, kami dengan menggunakan senter hp terus berjalan menyusuri trek pendakian yang semakin menanjak dan mulai menjumpai trek bebatuan bekas aliran lava. Kami menjumpai pertigaan yaitu pertigaan Simpang Apuy, yaitu pertemuan antara Jalur Apuy dan Jalur Palutungan. Setelah 45 menit berjalan kami sampai di Pos 7 (Sangyang Ropoh). Kami beristirahat sebentar untuk minum dan mengatur nafas, kemudian kami melanjutkan perjalanan.
Pos 7 - Pos 8 (Goa Walet) - Puncak
Perjalanan menuju Pos 8 semakin menanjak dan melelahkan. Trek sudah didominasi oleh bebatuan dan tenaga semakin di porsir disini. Setelah 40 menit berjalan kami sampai di Pos 8 dan memutuskan untuk menunaikan Sholat Subuh. Setelah sholat kami melanjutkan perjalanan menuju puncak. Dari Pos 8 sudah terlihat pohon-pohon bunga edelweis. Dan beberapa pohon telah berbunga dengan bunga yang indah. Langkah demi langkah menapaki bebatuan yang semakin menanjak dan akhirnya 30 menit berjalan dari Pos 8 kami sampai di Puncak Ciremai.
Syukur Alhamdulillah kami ucapkan kepada Allah Tuhan Yang Maha Kuasa. Atas Ridho-Nya kami semua dapat diberikan kekuatan sehingga bisa sampai puncak dengan selamat. Kami sangat menikmati proses sunrise (matahari terbit), tapi sayang kita berada disebelah barat gunung sehingga sunrise nya tergolong terlambat. Matahari sudah agak tinggi baru terlihat,hehe. Saran saja untuk anda yang ingin menyaksikan sunrise yang indah dan melihat Puncak Slamet anda bisa naik gunung ini melalui jalur linggarjati. Karena Jalur linggarjati di sebelah timur dan sangat pas banget untuk menikmati sunrise. Kalau jalur Palutungan cocoknya untuk menikmati keindahan sunset.
Kembali ke pendakian, kita bergantian menghabiskan memori berfoto, membuat video, dan lain sebagainya. Momen indah ini kita abadikan sebagai kenangan dimasa yang akan datang. Capek berfoto kami bersantai dengan menyeduh kopi hitam, sambil bercanda kami menikmati hangatnya kopi ditemani makanan ringan seadanya. Matahari semakin naik, namun cahayanya tertutup oleh kabut yang perlahan berlomba-lomba memenuhi langit. Kami pun memutuskan untuk turun ke tenda agar kami bisa segera berkemas untuk turun ke basecamp dan kembali lagi ke Jakarta.
Pendakian Gunung Prau 2565 mdpl via Patak Banteng
Gunung Prau, adalah sebuah bukit di Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah, Indonesia. Merupakan batas antara 3 kabupaten yaitu Kabupate Batang, Kabupaten Kendal, dan Kabupaten Wonosobo. Puncak Gununag Prahu merupakan padang rumput luas yang memanjang dari barat ke timur. Bukit-bukit kecil dan sabana dengan sedikit pepohonan dapat kita jumpai di puncak. Gunung Prahu merupakan puncak tertinggi di kawasan Dataran Tinggi Dieng, dengan beberapa puncak yang lebih rendah di sekitarnya.
Terdapat 4 Jalur Pendakian yang favorit, diantaranya Jalur Pranten, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jalur Patak Banteng, Wonosobo, Jalur Dieng, Wonosobo, Jalur Kenjuran Kendal. Dari keempat jalur ini yan paling favorit adalah Jalur Patak Banteng, Wonosobo. Kenapa jalur ini favorit, karena trek pendakian pendek (hanya 2,5 - 3 jam pejalanan), Akses menuju basecamp mudah (transportasi mudah), Bisa sekalian mengunjungi wisata lain di Dataran Tinggi Dieng, pengelola gunungnya sopan,dan lain sebagainya.
Oleh karena itu saya memilih Patak Banteng sebagai jalur pendakian yang akan saya lewati. Karena saya lebih mengutamakan jalur pendakian terpendek. Pendakian kali ini saya lakukan dengan tema " Camping Ceria". Arti dari tema tersebut adalah melakukan camping dengan santai, asyik, dan mengutamakan kebahagiaan bersama. Pendakian ini saya ditemani oleh 10 teman, diantaranya adalah 3 teman SMK, 7 orang teman main di kampung.Berikut saya sebutkan satu per satu :
1. Ihsanudin - rumah Kec Bener status lajang, dia adalah teman SMK.
2. Aji - rumah Kec Bayan status lajang, dia adalah teman SMK.
3. Riyan - rumah Kec Kemiri status gak jelas, dia teman SMK juga.
4. Hasanudin - Seorang Guru SD, dia adalah tetangga.
5. Nurcahyo - Temen main dari kecil, kebetulan temen sekolah juga.
6. Naryo - Teman bercanda dari kanak-kanak.
7. Triska - Teman di kampung.
8. Adi - Teman kampung juga.
9. Rochim - Teman di kampung yang hobby mainin burung, eh burung siapa ? hahaha
10. Putra - Teman di kampung yang ingin mencoba dinginya udara gunung.
Kami 11 orang berasal dari Kabupaten Purworejo, dan memulai perjalanan dari Kabupaten Purworejo. Berhubung kami berasal dari beberapa kecamatan, akhirnya kami memutuskan untuk berkumpul di pertigaan Maron. Pertigaan ini jika kita lurus akan menuju ke Magelang, tetapi kalau belok kiri akan menuju ke Wonosobo. Kami berdiskusi bersama dan menghasilkan kesepakatan bahwa perjalanan di mulai jam 08:00 dari pertigaan Maron tersebut. Jadi sebelum jam 8 harusnya sudah sampai di lokasi titik kumpul.
Ternyata terjadi hujan lebat di pagi hari, dengan keyakinan kuat akhirnya kami memutuskan untuk berangkat pukul 07:30 wib. Saya ditemani 7 orang teman saya berangkat dari Desa Pacekelan Kec/Kab Purworejo menuju titik kumpul Pertigaan Maron. Dengan mengenakan jas hujan kami memacu kendaraan secara pelan tapi pasti. Akhirnya pukul 08:00 wib kami sampai di lokasi, disana sudah ada teman saya Ihsan. 5 menit kemudian 2 orang teman saya datang, dan kami berdoa bersama sebelum memulai perjalanan.
Kami berjalan beriringan memacu kendaraan dengan kecepatan santai, karena jalan licin akibat hujan. Kondisi jalan menuju Wonosobo di dominasi oleh tanjakan, turunan dan tikungan tajam, sesekali di sebelah jalan terdapat jurang yang sangat dalam. Kami harus berhati-hati dan selalu waspada agar selamat sampai tujuan dan sampai rumah lagi.
Setelah berkendara selama 2,5 jam, kami sampai di Alun-alun Kota Wonosobo. Kami berhenti untuk melepas jas hujan karena hujan sedikit reda. Berhubung ini hari Jum'at, kami pun berencana menunaikan ibadah Sholat Jum'at di masjid jami' dekat alun-alun. Setelah semua rapi, kami memasuki area masjid memarkir kendaraan kemudian menitipkan tas di penitipan barang. Kami bergantian mengambil air wudhu dan memasuki masjid.
Sholat Jum'at selesai, kami bergegas mengambil barang kami dan memacu motor kesebuah warung makan tak jauh dari masjid. Kami makan siang dengan lahap karena kondisi kami kedinginan akibat kehujanan. Setelah makan selesai, kami melanjutkan perjalanan melewati Jalan Raya Dieng. Kami memacu kendaraan melewati tanjakan demi tanjakan dengan bermain gigi 1 dan 2. Hujan kembali mengguyur kami dan terpaksa jas hujan di pakai lagi. Kabut turun membuat jarak pandang kami sedikit terhalang. Kami terus berjalan dengan hati-hati dan dengan kewaspadaan tinggi, karena daerah dataran tinggi seperti ini rawan terjadi longsor. Hal ini di dunkung oleh faktor jarangnya kita temui pohon-pohon besar di sekitar jalan. Sekitar jalan di dominasi tanaman sayuran warga sekitar.
Akhirnya setelah 1 jam perjalanan kami sampai di gerbang yang bertuliskan " Kawasan Dieng Plateau". Kami berhenti sejenak untuk mengadakan foto bersama, sambil menikmati cilok (siomay) yang kebetulan penjualnya lewat. Hujan pun sedikit reda, dan sekitar 15 menit lagi kita sampai di Base Camp Patak Banteng. Setelah foto-foto cukup, kami melanjutkan perjalanan menuju base camp, dan kami sampai di base camp tepat pukul 14:30 wib.
Kami istirahat sejenak, sambil melengkapi kebutuhan untuk pendakian seperti air minum dan lain sebagainya. Saya menuju loket simaksi untuk melakukan registrasi, harga tiket pendakian untuk 1 orang adalah 10 ribu. Dan di loket saya dijelaskan tentang peraturan yang wajib di patuhi saat mendaki gunung prau. Semua perlengkapan telah siap, dan kami berkumpul untuk melakukan doa bersama demi kelancaran pendakian.
Base Camp - POS 1
Tepat pukul 15:00 wib kami melakukan pendakian. Dari base camp kami melewati perkampungan penduduk, dan kami melewati jalan setapak yang berbentuk anak tangga disebut ondo sewu. Bagi pemula ini sangat melelahkan, dan langsung memompa jantung. Untuk trek setapak tersebut panjangnya sekitar 500 meter. Setelah itu kita melintasi jalan bebatuan yang ditata rapi, kanan kirinya adalah perkebunan/persawahan warga. Sungguh sangat indah sekali pemandangan sawah dengan tata letak terasering yang begitu rapi. Tidak lama kemudian kami sampai di Pos 1. Dari base camp menuju Pos 1 dibutuhkan waktu 30 menit.
Pos 1 berupa gubuk kecil persawahan, biasanya terdapat penjual Siomay yang mengais rezeki dari para pendaki. Di pos ini pendaki bisa beristirahat dan mengisi tenaga ataupun lanjut perjalanan. Karena jalan dari basecamp tidak terlalu menanjak, pendaki dapat langsung melanjutkan perjalanan. Dari pos ini pendaki hanya bisa melihat pemandangan sawah yang rapi dan puncak dari gunung sindoro yang terlihat kecil. Jika ingin mengambil gambar mungkin dirasa tidak pas, karena lahan yang tertutup tebing persawahan dan perkampungan saja. Namun jika ingin menunggu rekan pendaki lain, pos ini bisa dijadikan tempat yang pas. Jika ramai pendaki, banyak tukan ojek di pos ini, untuk menjemput pendaki yang turun.
Kami pun beristirahat sebentar untuk mengatur nafas, dan melepaskan lelah serta dahaga. Kami memecahkan kesunyian dengan bercanda, bergurau , dan berceloteh. Setelah semua terlihat siap, kami melanjutkan perjalanan menuju ke Pos 2.
POS 1 - POS 2
Kami melanjutkan perjalanan dari Pos 1 menuju Pos 2, kami berbelok ke kiri, melewati persawahan, dengan pemandangan sawah kanan kiri dan hutan didepan. Dari Pos 1 menuju Pos 2 sekitar 30 menit saja dengan jalur tidak terlalu menanjak, dan berbentuk tangga tanah. Sebelum Pos 2 kami menjumpai warung kecil sebelah kiri jalur, warung ini buka jika pendakian ramai. Sekitar 20 m dari warung, Pos 2 sudah terlihat.
Karena pendaki yang turun banyak, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di warung tersebut. Gerimis terlihat turun menghiasi pendakian kami, dan kami bergegas mengambil jas hujan untuk di pakai agar badan tidak basah akibat air hujan. Kami melanjutkan perjalanan saat pendaki yang turun sudah tidak ada lagi, dan tidak lama kami sampai di Pos 2.
Pos 2 berupa lahan lapang kecil, cukup untuk mendirikan 2 tenda saja. Di pos ini juga pendaki memasuki hutan gunung prau. Hutan lebat dengan dominasi pohon cemara dan pinus. Para pendaki biasanya langsung melanjutkan perjalanan tanpa istirahat di pos ini karena tenaga masih cukup dan tidak terlalu terjal selama perjalanan dari pos 1.
POS 2 - POS 3
Kami tidak berhenti di Pos 2, karena stamina kami masih oke. Kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 3. Jalan mulai menanjak, dan sedikit menantang karena jalanan terjal dengan tanjakan yang lumayan sulit, ditambah hujan yang membuat trek semakin licin. Kami sedikit jenuh karena trek berupa tanah merah dan bebatuan yang menyusahkan kami, dikanan kiri terdapat pohon pinus dan jurang yang lumayan dalam. Perjalanan dari Pos 2 menuju Pos 3 sangat menguras tenaga, dan tidak di anjurkan pendaki untuk mengambil gambar apalagi selfi, hal ini dapat membahayakan diri sendiri. Kami beberapa kali berhenti untuk mengambil nafas dan kemudian jalan lagi. 1 jam berjalan akhirnya kami sampai di Pos 3.
POS 3 - Bukit Teletubies
Pos 3 ini berupa lahan kecil sebelah kanan, muat untuk 2 tenda. Di pos ini juga hanya berupa hutan saja, tidak ada pemandangan lain selain bukit dan hutan jadi jika pendaki merasa bosan ada baiknya untuk tidak terlalu lama di Pos 3. Rekomendasi untuk istirahat sejenak dan mengisi tenaga.
Setelah istirahat cukup, kami melanjutkan perjalanan ke tempat camp (bukit teletubis). Dari Pos 3 menuju Bukit Teletubis trek perjalanan adalah yang paling berat, karena trek semakin menanjak dan terjal, ditambah tidak ada pegangan di kanan kirinya. Kami terus berjalan dengan hati-hati karena ada jurang yang dalam di samping jalur pendakian. Bagi pendaki kawakan mungkin tanjakan di Gunung Prau ini tidak ada apa-apanya dibanding tanjakan di gunung lain seperti Gunung Sumbing, Gunung Slamet, Gunung Merapi, Gunung Semeru, dan Gunung-Gunung Besar lainnya. Namun bagi pendaki pemula, ini sungguh melelahkan. Bahkan ada seorang pendaki wanita yang sampai kram kakinya. Intinya ketika kita mendaki gunung persiapan fisik adalah hal pokok yang menjadi syarat utama mendaki.
Akhirnya dengan mengerahkan semua tenaga yang tersisa, kami sampai di Bukit Teletubis. Kami membutuhkan waktu 40 menit dai Pos 3 menuju Bukit Teletubis. Kami mencari lapak untuk mendirikan 4 tenda. Setelah lama memutar, kami menemukan lapak yang srategis. Kami mengumpulkan semua tas dan peralatan, sambil istirahat mengembalikan tenaga yang terkuras. Saling bantu membantu kami mendirikan tenda satu per satu.
Satu tenda telah berdiri, tenda ini di khususkan untuk dapur, sehingga semua logistik masuk ke tenda ini. Kemudian tenda kedua berdiri, tenda ini untuk tidur 4 orang, dan perlengkapan 4 orang masuk kedalam tenda tersebut. Selanjutya kami mendirikan tenda ketiga, dengan cekatan tenda berdiri dihadapan tenda pertama. Perlengkapan 3 orang masuk ke tenda tersebut. Sekarang kami berusaha untuk mendirikan tenda ke empat yang ukuran tendanya paling besar yaitu kapasitas 6 orang. 50% tenda telah selesai, namun langit cerah saat akan terjadinya sunset. Akhirnya kami berhamburan berlari membawa kamera masing-masing untuk mengabadikan momen tersebut. Kapan lagi bisa dapat bonus sunset yang indah.
Setengah jam kemudian matahari tenggelam, kami pun kembali ke tenda. Kami melanjutkan pembuatan tenda yang belum selesai tadi. Kurang 10% lagi tenda selesai eh hujan turun sangat lebat. Kami Masuk ke dalam tenda masing-masing. Saya yang berperan sebagai koki tenda, langsung masuk ke tenda dapur dan segera memasak. Saya menyalakan kompor pertama untuk memasak air untuk menyeduh kopi, teh, dan susu jahe. Kompor kedua saya nyalakan untuk memasak nasi. Setelah air masak, saya melanjutkan masak mie instan, masak sarden, dilanjutkan menggoreng tempe, menggoreng telur. Ketika semua sudah siap, kami makan bersama di tenda paling besar. Sungguh nikmat sekali makan bareng di dalam tenda sambil bercanda tawa.
Makan malam pun usai, kami menikmati dinginnya udara dibukit ini dengan main gaple, main poker, dan ada juga yang mendengarkan musik sambil bernyanyi. Tak lupa juga makanan ringan tersedia untuk olahraga mulut. Kopi juga selalu ready untuk menghangatkan badan, bagi perokok pun rokok terus di bakar tak ada putusnya lah. Malam pun terus berjalan hingga akhirnya kami merasa ngantuk. Kami pun tidur dengan nyenyak sampai waktu subuh tiba.
Kami bangun bergantian menunaikan Sholat Subuh. Sambil menunggu sunrise kami menyeduh air untuk membuat minuman hangat untuk menghangatkan tubuh. Kami pun menyiapkan segala sesuatu untuk kebutuhan pemotretan, baik baju yg akan digunakan, tulisan untuk salam-salam, bendera kebangsaan, bendera komunitas, dsb. Dan kami menuju spot photo yang gak jauh dari tenda.
Kami menunggu momen terbitnya Matahari, tampak cahaya merah bergaris di ufuk timur pertanda Matahari akan segera muncul. Kami pun bersorak sorai bersama teman pendaki yang lain menyambut Matahari. Mulai terlihat keindahan bukit-bukit disekitar Gunung Prau ini, bukit dengan rumput hijau yang seakan ini adalah bukit di Film Teletubies. Dari Gunung Prau ini kita bisa melihat beberapa gunung yang sangat indah. Diantaranya Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Slamet, dan perbukitan lain yang sangat memanjakan mata. Kami pun puas berfoto-foto hingga lupa waktu, dan saat kami melihat jam ternyata sudah jam 8 pagi. Kami yang merasa sudah puas berfoto bergegas menuju tenda.
Saya langsung menuju tenda dapur untuk masak menu sarapan, menu sarapan pagi ini adalah nasi putih, sayur asem, telur goreng, tempe goreng, sambel. Wih manap banget nih, bikin ngiler.... Kami bergantian makan, karena beberapa teman masih ada yang berfoto-foto. Sambil menunggu semua selesai makan, kami merapikan perlengkapan tidur semalam seperti sleeping bag, sarung, jaket,dll. Akhirny semua telah sarapan pagi, kami bersantai sejenak menikmati udara segar khas pegunungan. Sambil menikmati kopi hitam yang mantap, kami sedikit bercanda untuk memancing tawa.
Setelah semua merasa puas, kami memutuskan untuk berkemas membongkar tenda. Tenda kami bongkar satu persatu, kami tata kembali barang-barang di tas kami masing-masing. Sampah kami kumpulkan menjadi satu, dan kami packing dengan rapi, untuk memudahkan saat membawa sampah turun. Perlu diketahui bahwa seorang pendaki tidak boleh meninggalkan sampah sedikitpun di gunung, karena akan mengakibatkan kotornya lingkungan, merusak pemandangan, bisa memicu kebakaran hutan, dan banyak lagi kerugian sampah.
Selesai packing, kami berkumpul untuk berdoa bersama, mengucapkan syukur atas nikmat yang luar biasa yang telah kami dapat, berdoa juga semoga saat proses turun guung kami diberi keselamatan dan kesehatan sampai rumah. Tak lupa juga kami memohon maaf kepada tenda-tenda sekitar kami, apabila selama camp disini kami mengganggu ketenangan atau bahkan merugikan mereka. Mereka pun menyambut permohonan maaf kami dengan senyum lebar dan salam rimba. Akhirnya kami pulang dengan perasaan bangga dan bahagia. See You Next Trippp.....
Estimasi Waktu Perjalanan :
Base Camp - Pos 1 : 30 menit
Pos 1 - Pos 2 : 30 menit
Pos 2 - Pos 3 : 1 Jam
Pos 3 - Camp Zone ( Bukit Teletubis ) : 40 menit
Ini estimasi untuk kami yang jalan terus tapi santai, istirahat tidak begitu lama. Jika anda lebih cepat mungkin waktu pendakian bisa menjadi 2 jam. Namun jika anda lebih lambat waktu pendakian bisa menjadi 4 jam. Berikut estimasi dari kami semoga bermanfaat untuk anda, saudara anda, dan kerabat anda. Jangan lupa bagikan artikel ini agar informasi ini berguna untuk orang banyak.
Climbing Mount Rinjani,The 3rd Peak in Indonesia
Clouds of clouds have been seen from the plane window, the blue sky seemed to be a loyal companion of the vast universe, from a distance seen also a very large mountain, high, which almost surrounds the island of Lombok, Mount Rinjani. Yep, I've always drooled to climb this mountain, not only bearing the title of the third highest mountain in Indonesia, but also because this mountain is known for its extraordinary beauty. The plan to climb this Rinjani I discussed with a native friend who is somewhat male but actually the girl really is the Ines before the fast, and we get official date to start this ascent of 10 days after the Eid.
We both buy tickets deliberately flight first hour because on the first day in Lombok we want to play games for a while. We both though the plane, but different plane, I Lion, the ines Citilink. For the ticket itself, I got a discount yesterday from Panorama Tour so Rp.980.000,00, cheap enough is not it? Exactly at half past five in the morning, I was able to enter the plane, and not delay, rich Lion is now clean, yesterday pas from Lombok to Jakarta also use Lion and always on time, great. Short story plane take off at 5 am and I arrived in Lombok at 8 am WITA.
At Lombok International Airport I was amazed to wait ines same Aji and Satria Lombok children who will pick me up. At around 9 am the Aji and Satria arrived at LIA, and the ines long also out of the airport, around 11 noon we arrived at Satria's house and prepare everything to climb Rinjani in tomorrow. But unfortunately, the Aji can not join this climb because again a short semester, really sorry can not go on vacation.
In the afternoon, I and Ines play around West Lombok for a while, just to Malimbu at Pantai Tiga Setangi, enjoy the sunset for the first time to Lombok.
Day 1, Ampenan - Sembalun - Climbing Mount Rinjani Pos 2
Around 8 am, all personnel who will climb Mount Rinjani come one by one. Our total group is 8 people where 2 people from outside Lombok is me and ines, then 6 people from Lombok is campus friend Satria. The personnel among others
1. Ines, my friend from junior high school whose hair is short, more handsome than me, hmmm
2. Satria son of Lombok who helped me last January
3. Fiqri friends campus the Satria, the Uztad that no songs on his hp, the sound uztad qira'at
4. Jepril is very similar to my friend Kudis, similar to his behavior but still remember God
5. Nauval the boss who works in NTT, whether it's Lombok or NTT, but he is a big boss! #Taliwang
6. Chan the boy from Padang who studied at Unram, Chan is not chandra or what, chan is indeed his name.
7. and the youngest Iwan's nephew Chan who lives in Sumbawa Besar, whose work is as rich as me, cigarettes continues at every opportunity
The five sumpret children are Fiqri, Jepril, Nauval, Chan, and Iwan are climbers who really want to climb the mountain, and their first mountain is this climb, Mount Rinjani .. We rented a pickup car from Ampenan to basecamp Sembalun PP 1 million, divided by eighth into 125rb pp. Exactly at half past 11 am we drove from Satria's house in Ampenan, to Sembalun!
Travel for 3 hours. finally we arrived at Sembalun. The atmosphere at that time at the National Park Hall of Mount Rinjani is very quiet, uh it turns out they have been up from the morning, and about 500 people climbers up that day. Before making the climb, we pray first at the nearest mosque and fill the stomach that has been very kick-nendang. After praying and eating, we headed to BTNGR for climbing registration. Simply pay 25ribu course for 5 days, because it is our plan want 5 days in Rinjani, precisely at 4 pm this climb begins!
Etape BTNGR - Pos 1 - Pos 2
From BTNGR, we are still escorted by pick up to tip of asphalt, pretty far on foot. Arriving at the end of the asphalt, we began to climb to the gate of climbing Sembalun. Actually still quite far from the end of the asphalt to the climbing gate, we walk casually. The sharp-loving bud arrived, there was a sand truck that we were willing to ride to near the gate of Sembalun climbing, just 30 minutes away by pick up, truck, and walking a little, we arrived at Sembalun climbing door.
From the climbing gate, we continue the journey on foot to the post 1. The journey from heading to post 1 is a hilly savanna with a steep up and down contour. When the weather is clear, we can see Rinjani clearly, but when it's cloudy, the benefits during the trip is not hot. The journey from the gate to the post 1 very far, especially if you guys from BTNGR on foot, guaranteed knees grip even though the track is steep. If I, Ines, and Satria focus on walking, unlike the five kids who work snapshots continue to work, heuuu, but if they ga photos, no photos for my blog * Thanks, Forward Narcissists! Long story short journey for 1 hour 40 minutes we arrived at post 1.
We stayed long enough in post 1 because the trip is quite far and tiring, the day is getting dark and we immediately set up headlamp, around the hour and a half of 7 we continue the journey to post 2. The journey to the post 2 or our first check point, under control. Night travel does not make us easily tired because we do not see the path. 30 minutes drive from post 1 we arrived at post 2 and directly diriin tent and continue the journey tomorrow. Unfortunately when we want to tent ourselves, rain down, where beruga (saung) in the 2nd post has been controlled by other climbers, so we drenched somewhat fitting tent ourselves. In post 2 there is a water source just under the bridge, but not feasible to drink directly because it smells a bit, preferably the water is used for cooking purposes only.
Day 2, Travel Post 2 - Hill of Regret - Plawangan Sembalun
Good morning! It's our first morning in Rinjani, the weather is very bright, even when out of the tent, Rinjani seemed to welcome us to come. The condition of post 2 is very open, so if the hot weather is really hot, if cold is okay, but not so cold because it is still under 2000 mdpl, so kind of Bogor Peak is cold. While making breakfast instant porridge, then there is a celebration business, around 9 am we continue the journey to Plawangan Sembalun. Today's journey is the heaviest journey along Mount Rinjani because we will pass a hill that he said to make us upset erratic, ehmmm.
Etape pos 2 - pos 3
The journey from post 2 to post 3 has started quite heavy, incline and a little bonus. Actually that make heavy because we can see the path from post 2 to post 3, it feels close to the eye but far on the knee, plus the weather when it's very hot, the more tired. Before arriving at post 3, we will meet the same name 3 extra post, so do not be happy because it is still about 10 minutes from the post 3 extra with a path that has climbed. Exactly at 10 am or 1 hour drive from post 2, we arrived at post 3. The camp area at post 3 is quite wide, but it is not as big as post 2, and in post 3 there is no water source. From post 3, we can see the hill which is said to make the knees same heart sometimes not in line, which he said ready climbers who climbed Rinjani via this hill would be upset, hmmm yap name 7 hills regret. Why his name is 7 hills of regret? Because we are going up the hill to 7 seeds! Yes, no lie, keep fit we gawk upwards, the impression is rich peak Plawangan Sembalun, but that's just the top of the hill only, so this path is also called the path of trickery ..
Stage post 3 - Seven Hills of Regret - Plawangan Sembalun
After resting for half an hour, we also prepare to continue the journey back to the second check point of Plawangan Sembalun. The journey from post 3 to Plawangan is very heavy, plus the weather at that time is often fickle, sometimes scorching heat, sometimes cool due to mist cover. But sure, if we pass this path fits hot, really torture! At that time the weather was foggy, so we did not see the hill above so there was no impression of PHP. The track? A little bonus. Bonus yes if we arrive at every hilltop, after that go on guys.
After a 1 hour 30 minute journey, we arrived at the extra post in the middle of the hill of regret. People say, if we are already in this extra post, the sign is near from Plawangan Sembalun. Yeah close, but the climb is not fair! But the advantage, the path from the post extra to plawangan this tend to be shady because on my left I see a lot of cypress trees, then here I also can only smile if there is a porter passing over me, they are really strong, just wearing sandals, and big bamboo to carry a weight of 20 kilograms, really great, very strong.
Oh yes I want a little story, so the five kids that snapshot, either because they are novice climber or what, as it passes through the hills of regret, they speeding the road kek kek R1, same rich ines also, girls but tigers! And for fun, they all say if the hills regret not make sorry, but make them happy. As for me and Satria the very back, already rich guys leech guys while eating the chocolate, the original foot of the craft!
Exactly at half hour 1 pm we continue the journey from extra post to plawangan sembalun. This trip is heavier than before, yes it's more cool, but the mazjos jago climb, almost as rich as the steep climb Prau bull but more steep again. Here I rest a lot, because the legs begin to cramp, satria too, just the same ines five children that snapshot is speeding steadily. Long story short, in the last hill that the path is very steep, and already seen the top Plawangan Sembalun, exactly at 14:45 or about 2 hours 15 minutes we (more precisely me and the nobleman for the back) finally arrived too! Cihuyyy!
At that time Plawangan condition rather quiet and also foggy. We went a little way to the camp area, near the water source. From Plawangan last way approximately 10 minutes with contours up and down. Arriving at the end of the lane, where the drain lane to the top and to the water source, we also immediately set up a tent. Oh yes it was said Satria, Rinjani is not usually quiet, but usually in Plawangan we want to go really aja really difficult because tents are everywhere. After the tent stood, cook lunch, photographs, around 6 pm we slept all because for preparation summit to Dewi Anjani early morning. Oh yes FYI aja, in Plawangan Sembalun there is a toilet, but the condition is very pathetic :(, plus a lot of land mines there, gatau again what to do :( .. mine do not make us sick, but make our way so lame :( (
Day 3, Plawangan Sembalun - Puncak Dewi Anjani - Segara Anak Lake
Telolettelolettelolet, exactly at half past 12 our alarm malware sounds, and preparation to the summit of Rinjani, the third highest peak in Indonesia. Before climbing, we make breakfast early for our energy, this is mandatory if you gamau exhausted when summit. We make spagetti just an instant but make full. Oh yes the noble did not go to the top because of ever, and he said the peak just once wrote, hmm okay dah akamsi mah free kek Zlatan. Exactly at 1.15 am, with bismillah we also make summit to the third peak in Indonesia!
The starting line from our tent was uphill, and just a few minutes down the road, the path that had been the ground turned into a pretty tired sand. Sand is often really slumped, but do not make the foot drown like Semeru. Long story short for 1 hour drive, we have arrived at Rinjani ridge (really cool) or if we call it Plawangan Sembalun above, because this is the peak of all Plawangan. From here varied tracks, sometimes flat, sometimes climb but not steep, just ga down, and the path was sand, but again do not make foot drown like Semeru. The five sumpret children initially uda kepedean will cepet to the top, because the peak of Rinjani is already visible really, but it has been a long way really not to the point, until in the end the path that tends to change to sandy rocky, steep climb, and pebbly, yap welcome to letter E ridge guys!
Yep, letter E ridge is the heaviest stage along the way to the top. The steep path is about 50-55 degrees, sandy, rocky, and gravel, making the road difficult, plus the cold wind is not hard to breath. But I admit, the path to the top of Rinjani is not as difficult as Semeru, because if Semeru, the sand is really loose right, but this is delicious. The tip is you step on the sand that has been stepped by other climbers let ga slump or fall. Oh yes the Letter E line is also narrow, right left of the abyss. If left the gorge straight to savana sembalun, right ravine directly to the mountain Anak Barujari. Here we have a lot of breaks, let alone the five new snatches ngedown in this path, the spirit of it! Their desire to get to the top before sunrise materialized, exactly at 6 am or a journey for 4 hours 45 minutes, we arrived at the top of Dewi Anjani, the third Peak in Indonesia! Rinjani peak condition is very narrow, and also crowded, we also have to queue for photos. But all our sacrifices are not just about photographs, but can enjoy God's grace above this third peak in Indonesia together.
The weather was really bright, from the top, we can see clearly all of Lombok, even Gili Trawangan located far from Rinjani looks very clear, then a row of exotic hills in Sembalun, Gunung Agung in Bali, and also Mount Tambora in Sumbawa is clearly visible. Once satisfied the photographs at the top and enjoy the beauty of the universe, exactly at half past eight in the morning we went back down. The trip down from the top was quite steep, let alone see the letter E from the top, still ga guess me and my friends can get through the track. Oh yes down from the top is also quite good, rich in skis like in Semeru, but if here we are easy jatoh because there are still many big rocks attached to the sand. Oh yes we are also a lot of narcissists during the lane, let alone see the original Barujari really cool from above. In short we arrive again in the tent at half an hour or half an hour or 3 hours down, it's the photographs that are over time.
Pendakian Gunung Merapi 2930 mdpl via Selo
Pukul 07:00 Wib, kami berkumpul di rumah teman kami. Kami
mempersiapkan segala kebutuhan untuk pendakian. Kami mengemas peralatan,
konsumsi, dan kebutuhan lainnya. Kami akan melakukan Pendakian Gunung Merapi
via Selo. Setelah selesai packing, kami berdiskusi mengenai rute perjalanan
yang akan kami lewati agar sampai di Base Camp dengan rute tercepat dan
terpendek. Akhirnya hasil diskusi memutuskan bahwa salah satu teman kami bagian
buka jalan. Maklumlah, kami berangkat dari Kabupaten Purworejo, sehingga rute
perjalanannya cukup rumit, karena belum paham banget, hehe.
Pukul 08:00 Wib kami memulai perjalanan dengan anggota 7 orang mengendarai 5 motor.
Kami memulai perjalanan dengan jalan beriringan dengan kecepatan 60 km/jam.
Dari Purworejo kami menuju ke Jalan Raya Magelang, terus berjalan hingga
akhirnya bertemu pertigaan, kami mengambil ke arah Borobudur. Jalan terus
menyusuri jalan yang sedikit menanjak, dan kami masuk ke Jalan Raya Magelang –Boyolali.
Tak lama kami menemukan pertigaan , kami ambil kekiri ke arah Selo, Boyolali.
Kami berjalan terus hingga menemukan plang dengan tulisan Wisata New Selo
Gunung Merapi. Kami mengambil arah kanan dan sampailah di Basecamp Selo.
| Dalam perjalanan menuju basecamp |
Mulai Pendakian
Pukul 11:30 Wib, semua sudah beres, kami memutuskan untuk
melakukan perjalanan. Kami menapaki jalan beraspal menuju ke tempat wisata New
Selo. Kami berjalan santai sambil menikmati sejuknya udara pegunungan dengan
kabut yang sesekali datang. Saya mencoba memompa tenaga agar pemanasan awal
berjalan sempurna, dengan detak jantung yang belum teratur. Perlahan tapi pasti
akhirnya saya menemukan irama detak jantung yang lama kelamaan menjadi stabil.
Kami yang sudah lama tidak mendaki gunung merasakan efek yang luar biasa saat
melakukan start pendakian seperti ini.
Sampailah kami di tempat Wisata New Selo, dengan nafas
ter-engah-engah kami meletakkan tas gunung, menyetabilkan nafas dan menuju ke
tukang siomay (cilok). Sebelum masuk ke hutan yang tidak dijumpai lagi
pedagang, kami makan enak dulu. Sebungkus siomay dan segelas es the cukuplah
menghapus lelah perjalanan dari basecamp ke New Selo yang ditempuh dengn waktu 30 menit. Setelah
siomay habis kami menuju ke sumber air untuk mengambil air wudhu. Kami
berencana menunaikan sholat dhuhur, tetapi tidak ada mushola di New Selo. Kami
hanya mengambil air wudhu dan memutuskan melanjutkan peralanan, mencari tempat
strategis untuk sholat.
Belum lama kami berjalan, kami melihat ada warung di pinggir
track yang kosong tidak ada penjual, libur kalik ya. Kami memanfaatkannya untuk
menunaikan sholat dhuhur plus jamak dengan ashar. Dengan beralaskan matras kami
sholat bergantian hingga semua anggota sholat semua.
Kami melanjutkan perjalanan lagi dengan target gerbang batas
hutan. Secara estimasi dari basecamp menuju gerbang hutan ditempuh dengan waktu
2 jam. Ga lama lagi kami akan sampai di gerbang hutan. Kami melanjutkan
perjalanan dengan menapaki jalan setapak. Tidak lama kemudian, setapaknya
berganti tanah liat. Untungnya musim kering, jadi tanahnya keras, kalau musim
hujan pasti becek terus mleset-mleset.
Lanjut ke perjalanan, akhirnya kami sampai di Gerbang Hutan dengan total
waktu 2 jam. Maklumlah pendaki amatir, jadi jalannya selow alias santai. Kami
tidak beristirahat disini, kami terus melanjutkan perjalanan dengan pelan tapi
pasti. Kami memakai sistem 10 menit jalan semenit break,haha jadi perjalanan agak santai alias
santai banget.
Jalan semakin terjal dan kami terpisah menjadi 2 rombongan
karena ada pertigaan. 4 orang yang jalan duluan mengambil jalan kiri, 3 orang
mengambil jalan kanan. Sempet panik sih, takutnya salah jalan. Tapi
alhamdulillah ketemu juga. Yang jalan kiri memang betul jalan pendaki, kalau
yang kanan jalan orang nyari rumput kalik ya ? , soalnya nerobos rumput
tinggi-tinggi banget, susah pokoknya.
Kami terus berjalan menapaki jalan yang semakin menanjak dengan permukaan tanah kering dengan sedikit debu. Banyak pohon besar yang tumbang dan menutupi jalur pendakian, ini menjadi tantangan tersendiri buat pendaki pemula yang mulai kerepotan saat harus naik turun, merayap, dan menunduk menghindari rintangan. Sesekali kabut yang menutupi puncak merapi menghilang, kami disuguhkan pemandangan yang luar biasa.
Satu jam perjalanan, kami sampai di Pos 1. Kami memutuskan
untuk istirahat sejenak sekitar 10 menit. Untuk menambah semangat, di keluarkan
makanan ringan dari tas, sembari ngemil kami becanda menghilangkan lelah
perjalanan. Perlu diperhatikan dalam pendakian kita ga boleh mengeluh karena
ini pantangan buat pendaki. Kita harus berjiwa kesatria dengan menyemangati
diri sendiri bahwa kita kuat dan kita mampu atas izin Allah SWT.
Pendakian dilanjutkan dengan target Pos 2. Secara estimasi
perjalanan membutuhkan waktu 1 jam perjalanan. Namun karena kami amatir, kami
memperlambat langkah kaki agar tidak terlalu memaksakan tenaga. Karena track
semakin menanjak, kami memakai sistem 5 menit jalan break 1 menit. Pemandangan
indah pun menghiasa perjalanan menuju ke pos 2. Sambil berjalan kami
mengabadikan momen ini dengan sedikit cepretan kamera.
Setelah 1,5 jam perjalanan, kami sampai di Pos 2. Kami mulai
kelelahan dan kami memutuskan untuk istirahat 15 menit. Saya ambil apel dari
tas dan saya bagikan ke semua teman. Dengan harapan stamina bertambah walau sedikit.
Akhirnya stamina sedikit bertambah dan kami melanjutkan perjalanan. Tempo
perjalanan kami kurangi lagi agar tenaga tidak terporsir. Semangat masih
menggebu, tetapi fisik tidak bisa di bohongi. Skema 5 menit jalan, break 1
menit masih di pakai dan perjalanan masih lancar tanpa halangan. Matahari mulai
menjorok ke barat menghasilkan pemandangan indah menjelang sunset. Kami asyik
mengabadikan momen tersebut baik dengan jepretan dan rekaman video.
Keasyikan berfoto, kami lupa kalau sebentar lagi matahari
terbenam, sedangkan kami masih jauh dari Pos 3. Kami mencoba fokus kembali ke
perjalanan, dengan target pukul 18:00 Wib sampai di Pos 3 dan langsung buka
tenda. Pengalaman kami di pendakian gunung sebelumnya, jika sudah memasuki
waktu maghrib, cuaca ekstrem terjadi, perubahan suhu sangat cepat. Udara akan
sangat dingin, apalagi jika dibarengi kabut turun. Namun karena pemandangan
sunset kali ini sangat indah banget, kami terlupa dengan cuaca yang akan
berubah menjadi dingin.
Dan matahari pun terbenam, kami masih berada di trek
perjalanan yang terjal, dengan kemiringan 60 derajat. Suara adzan terdengar
pertanda masuk waktu maghrib, kami mulai mempercepat langkah kaki, dengan
harapan kami menemukan tempat rata untuk berdirinya tenda. Kabut tipis mulai
turun, membuat udara semakin dingin. Tak lama kemudian kami menemukan lokasi
yang rata, kami memutuskan untuk berhenti, menjalankan Sholat Maghrib. Kami
membuka matras, mencari batu untuk tayamum, dan kemudian sholat bergantian.
Selama istirahat ini kami merasakan dinginnya udara lereng
Gunung Merapi. Saya menyarankan kepada temen-teman untuk memakai jaket, sarung
tangan, sepatu dengan kaos kaki, terus penutup kepala yang menutupi telinga.
Karena untuk menangkal dingin kita harus menjaga suhu telapak tangan, telapak
kaki, dan daun telinga. Jika daerah tersebut sudah tertutup, suhu tubuh tidak
cepat kedinginan. Selain itu kami juga membuka tas logistik dan tas peralatan,
mengeluarkan kompor dan merebus air untuk menghangatkan badan. Karena dingin
terus menyerang kami memakan makanan yang ada agar mulut bergerak, tentunya
lambung juga bekerja agar terjadi pembakaran dalam tubuh. Setelah sholat
selesai dan stamina fit kembali, kami melanjutkan perjalanan.
| Tempat camping |
Target kami Pos 3, tetapi jika menemukan tempat yang
strategis untuk berdirinya tenda, kami berhenti. Akhirnya 20 menit berjalan,
kami menemukan lokasi yang rata, tetapi lokasinya sangat terbuka dan kami
memutuskan untuk berjalan lagi. Tak lama kemudian, kami menemukan lokasi yang
strategis, di sebelah timur ada batu dan disebelah selatan masih ada pohon
tinggi. Dengan kondisi ini kemungkinan hembusan angin sangat tipis. Kami
sepakat bermalam disini, karena kondisi fisik yang mulai lemah dan suhu yang
sangat dingin.
Kami bergegas membongkar tas carriel, mengeluarkan tenda.
Tenda dengan kapasitas 4 orang kami dirikan terlebih dahulu, karena ukuran
tenda yang kecil dan waktu mendirikannya cepat. Hal ini dilakukan untuk
antisipasi jika ada yang kedinginan, dan dikhususkan buat dapur,yah buat nyeduh
air angetlah. Karena beberapa tim kami sudah ahli masalah mendirikan tenda, 10
menit kelar deh tenda. Semua logistik, dan peralatan segera di bongkar dan di
masukkan ke tenda tersebut. Karena saya yang dipercaya untuk masak, akhirnya
saya masuk tenda dan menghidupkan satu kompor untuk masak air. Saya masak, 1
temen saya masih bongkar tas, dan yang 5 orang mendirikan tenda yang satunya,
dengan kapasitas 6 orang.
Alhamdulillah tidak terjadi badai atau gerimis kecil,
sehingga proses mendirikan tenda berjalan lancar sesuai harapan semua pendaki.
Ya, walaupun udara kali ini cukup dingin dan menusuk tulang. Air mendidih dan
saya tuang kebeberapa gelas dan dibagikan ke teman-teman. Dengan harapan bisa
menyetabilkan suhu badan dan proses mendirikan tenda kedua cepat terselesaikan.
Untuk tenda yang isi 6 ini agak ribet proses mendirikannya, karena kami juga
belum terbiasa, hehe. 30 menit berlalu dan tenda kedua selesai di bangun. Semua
mulai masuk ke tenda, dan menghangatkan badan masing-masing. Ada yang
kelelahan, kedinginan, laper, dsb. Kopi, susu jahe, teh, susu mulai diseduh
untuk menghangatkan badan, sama nipu lambunglah. Kompor kedua dihidupkan juga
difungsikan untuk merebus mie instan. Kenapa mie instan karena makanan ini
paling efisien saat kondisi dadakan. Sebetulnya kurang bagus sih buat
kesehatan, tapi mau ga mau ya hajarrrr, laper soalnya. Mie instan digunung tuh
enak banget, tauk. Apalagi di campur telor, dimakan pas anget, subhanallah
banget.
Karena kali ini logistik kami sangat melimpah, malam ini
kita bener-bener makan dan makan. Makanan ringan seperti wafer, bolu, kacang
kulit, keripik, oreo, dan snack lainnya bener-bener banyak banget. Setelah mie
instan mengganjal perut, kami mencoba makan roti bakar, di tambah dengan tempe
goreng dan sosis goreng. Sambil masak kami terus ketawa dengan candaan-candaan
gila ala anak muda. Awalnya bahas tentang trek pendakian, terus ngecengin yang
ga kuat, ngecengin yang sering berhenti, ngecengin perokok yang ngempos
nafasnya, eh akhirnya obrolannya nyasar ke janda juga. Aduh obrolan anak sekarang
ga jauh dari lawan jenis yah.
| Keindahan pemandangan puncak merapi |
Akhirnya semua personil kenyang, dan alhamdulillah tidak ada
yang kedinginan. Peralatan masak-memasak di rapikan ke pojok. Kami mulai
mengeluarkan kantong kehangatan, memasang salonpas, koyok cabe, olesin balsem,
merapikan jaket, menarik kaos kaki, memakai sarung tangan, dan perlengkapan
lain untuk persiapan tidur. Ternyata Sleeping bag kurang satu, dan terpaksa
saya tidur hanya mengenakan jaket, nikmat sih bisa merasakan nikmatnya cuaca
dingin seperti ini, tapi dalam hati takut juga kalo kedinginan sampai
hipotermia. Namun saya percaya diri dan berdoa sebelum tidur. Saya menempelkan
koyo cabe di paha dan betis, punggung dengan harapan bisa menghangatkan tubuh
dan otot-otot yang kaku bisa normal lagi untuk summit attack besok pagi.
Akhirnya semua telah siap bermimpi indah, saya melihat jam menunjukkan pukul
21:00 Wib. Kami tidur dibagi dua yaitu ditenda isi 4 ada 3 orang dan yang 4
orang di tenda isi 6. Good Night yahhh….. sampai jumpa besok pagi…..
Summit Attack
Pukul 03:30 Wib saya terbangun, sedikit menggigil, jaket
tembus, luar biasa dinginnya malam ini, meskipun belum dingin maksimal, karena
suhu baru 15 derajat celcius. Saya mencari kompor dan menghidupkannya untuk
menghangatkan suhu dalam tenda. Kemudian merebus air, untuk menghangatkan
badan. Saya mencoba memutar musik untuk memecah kesunyian pagi itu. Teman saya
terbangun dan menanyakan “ ada air panas belum ?”. Saya membalas “ ada nih, mau
kopi apa susu jahe ?. “Susu jahe aja”, kata dia, eh yang lain nyaut juga, “kopi
dunk”. Haha ternyata mereka sudah bangun juga tapi mager. Begitu ada air panas
baru pada teriak, ada yang minta kopi, susu jahe dan air putih panas. Yah
maklumlah, kalo sudah di dalam kantong kehangatan, males mau gerak, apalagi
keluar tenda, uhhh dingin sekali. Tapi karena posisi tenda kita masih jauh
sampai ke puncak, mau tidak mau kami melawan rasa dingin ini. Dengan ganjalan
silverquen ditemani susu jahe cukuplah menghangatkan badan.
| Background Gunung Merbabu |
Garis merah di ufuk timur mulai terlihat, pertanda sunrise
akan segera datang. Kami sedikit kecewa karena kabut sangat banyak, namun kami
terus berdoa agar kabut segera hilang dan keindahan puncak merapi nampak degan
jelas. Karena ini musim kemarau harapan
masih ada di benak kami, suasana sangat hening karena semua pendaki
kedinginan. Air pun akhirnya mendidih juga, setelah proses perebusan yang cukup
lama. Yak lumayanlah buat angetin badan.
Akhirnya perlahan
kabut hilir mudik dan terkiskis. Semua kabut pergi entah kemana, dan
pemandangan indah nampak jelas. Para pendaki mulai bersorak-sorai, menyambut
keindahan alam ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Terdengar beberapa pendaki
mengucapkan kalimat syukur (Alhamdulillah), kalimat takbir (Allahu akbar),
Subhanallah, MasyaAllah, dan kalimat suci lainnya. Melihat keindahan sunrise
dan keindahan bukit-bukit adalah nikmat yang luar biasa. Kenikmatan ini terasa
begitu indah dan menjadikan kita lebih bersyukur kepada Tuhan YME.
| Semangat membara |
Dengan kamera yang masih di tangan dan tongsis kami menuruni
Puncak Merapi. Kami terus berfoto dengan seribu macam gaya, mengabadikan setiap
keindahan dari berbagai sudut. Jongkok dikit cepret, tiduran cepret, berdiri
cepret, senyum cepret, semua gaya pokoknya ada di kamera. Maklumlah anak muda
zaman sekarang harus up to date, update
DP bisa 10 menit sekali, jadi stock foto harus banyak, biar kekinian cuy.
Perjalanan Turun
Satu jam berjalan, kami sampai di tenda. Kami saling
bantu-membantu mencoba masak nasi, masak sayur asam, goreng tempe, telor rebus,
masak mie instan. Setelah beberapa menit memasak, akhirnya masakan untuk makan
siang telah ready untuk di santap. Karena piring terbatas, kami bergantian
makan siangnya. Makan siang kali ini sangat istimewa dan menyenangkan,
disamping olahan masakannya yang enak, kami juga bener-bener lapar, ditambah
lagi dengan hembusan angin gunung di bawah pepohonan yang sangat sejuk, di
warnai dengan candaan yang membuat kami tertawa kecil.
Jarum jam menunjukkan pukul 11:00 Wib, kami mulai berkemas
membongkar tenda, membungkus sisa logistik, mengumpulkan sampah, dan merapikan
tempat camp. Dengan kerjasama tim yang bagus, kami saling membantu melakukan
packing, dan 15 menit kemudian packing telah selesai. Kami menepi ke tempat
yang teduh untuk mempersiapkan diri melakukan perjalanan turun. Perjalanan
turun sesuai estimasi di tempuh dengan waktu 3 jam.
Setelah semua siap, kami breafing sejenak melakukan sedikit
diskusi, kemudian di lanjutkan dengan doa bersama, disertai yel-yel
penyemangat. Pukul 12 siang tepat, kami memulai perjalanan turun. Dengan
berjalan beriringan kami menuruni bebatuan terjal dengan kerikil yang memaksa
kita untuk berhati-hati agar tidak terpeleset, atau terkilir. Saat perjalanan
turun seperti ini kaki harus dalam kondisi prima, karena tumpuan ada pada kaki,
kekuatan paha sangat dibutuhkan. Jangan terlalu memaksakan membawa beban yang
berat. Untuk itu beban kami bagi sesuai kemampuan sehingga tidak ada yang kelelahan
sebelum sampai basecamp.
| Ada gadisnya lagi |
Alhamdulillah pukul 17:40 Wib, kami sampai dirumah dengan
selamat, tanpa ada halangan suatu apapun di dalam perjalanan. Saya pun
bersyukur, karena dengan Motor Supra X 100 cc ini saya bisa pergi dan pulang
dengan selamat tanpa ada kerusakan di motor tua ini. Perjalanan ini sangat
menyenangkan meskipun personil kami hanya 7 orang. Saya akan menyebutkan 7
orang tersebut, diantaranya : mansyur(saya), adi, triska, rockim, cahyo, hasan,
fatkur.
Kami melihat bahwa kepedulian manusia (pendaki) terhadap
alam (gunung) mulai berkurang, kami masih melihat sampah dimana-mana, melihat
coretan tinta di batu-batu besar, pembuatan api unggun yang merusak tanaman
sekitar, buang air kecil sembarangan, BAB sembarangan, memetik edelweis dan hal
buruk lainnya. Kami mewakili team Jejak Palapa sedikit berpesan kepada semua
insan di muka bumi ini khususnya pendaki, cintailah alam yang indah ini,
jagalah keindahannya, lestarikan ekosistem yang ada, rawatlah dengan penuh
keiklasan, agar kelak anak cucumu masih bisa menikmati keindahan alam ini.
Sekian perjalanan kami, harap maklum jika alur ceritanya
berantakan. Kami sangat mengharap kritik dan saran dari rekan-rekan untuk kemajuan artikel kami, dan kemajuan
blog ini. Sampai jumpa di perjalanan berikutnya. Terima kasih.
Subscribe to:
Posts (Atom)







